PUNYAKUBAE

  • PUNYAKUBAE |
  • Tag
    • Travel Stories
    • Promotional
    • Entertainment
    • Food Experience
  • History
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2021
    • 2020
    • 2019
    • 2018
    • 2017
    • 2016
    • 2015
    • 2014
    • 2013
    • 2012
    • 2011
    • 2010
    • 2009
    • 2008
    • empty
      • empty1
      • empty2

 Day 3 -

 

Hari ketiga dimulai lebih pagi karena menurut Jun air akan naik seiring dengan matahari yang semakin tinggi. Jadwal kita hari ini adalah bersih-bersih daerah Wuqi. Tempat pertama adalah muara sungai di daerah tepi laut. Konon, area ini adalah tempat menumpuknya banyak sampah dari dataran yang lebih tinggi di sebelah barat district Wuqi yang ikut ngalir bersama air sungai. Di sini, kita dibagi menjadi team, yang terdiri dari 2 orang. Gue bareng Harune. Harune orangnya ga banyak ngeluh, padahal keringetnya udah bercucuran. Walau masih pagi, mataaharinya di sini teriikkk, panas loh gaes. Tapi karena gue mau cepet selesai, dengan asumsi biar bisa cepet istirahat, gue gas pol mengisi karung sampah. Sebenernya gue juga agak bingung sampah jenis apa yang mau dibersihin, karena kebanyakan ranting bambu gitu. Temen volunteer lain juga awalnya ngerasa tempat ini kelihatan cenderung bersih. Ga banyak sampah dibungkus plastik yang biasa kita lihat di tumpukan sampah pinggir jalan. Eh pas gue lihatin si Jun, ternyata ranting bambu ini juga termasuk sampah yang harus kita bersihin. Cooooyyyy…. sehamparan muara sungai ini banyak banget sampah ranting bambu ini, ga akan selesai bersihin seharian. Temen-temen volunteer yang lain juga sempet kaget kalo kita harus bersihin segini luasnya. Bahkan mereka bercanda bahwa mereka aja jarang bersihin rumahnya di negara mereka sendiri, eh sekarang mereka malah mungutin sampah di negara lain, panas-panasan pulak. wkwkkk.. jenis sampah lainnya yang ada di muara sungai ini adalah botol plastik, botol kaca, kaleng minuman, styreofoam. Team gue dan Harune cuma sanggup ngumpulin 1 karung sampah, ga sanggup lagi gue buat panas-panasan di bawah. Kita pun seringan ngadem di bawah atap semacam area kantor kecil gitu.

 

 

Setelah terkumpul total 6 karung (paling banyak ngumpulin Jun dan Monica), kita pindah ke sebuah bangunan kuil gitu. Semacam community center. Menurut gue kuil ini menarik loh, karena bukan hanya tempat ibadah aja. Mereka ada aula serba guna yang terbuka untuk publik, dan punya jadwal kegiatan setiap harinya. Sempet ada kelas karaoke juga untuk para orang tua. Pernah juga ada acara senam sore gitu. Di dalam aula juga gue lihat ada hasil prakarya dari kerang gitu. Gue juga mengimpikan bahwa mesjid-mesjid di Indonesia bisa seaktif ini. 

Setelah makan siang di kuil ini, kita lalu dikasih sampah kaleng dan botol yang cenderung lebih bersih. Kita disuruh untuk buat semacam art statue dari sampah ini. Trus kita diskusi mau buat apa. Gue sempet browsing sih, tapi saat gue ajak diskusi temen volunteer, ternyata mereka maunya bikin yang gampang aja. Ya karena gue males mikir, jadi gue ngikut aja lah mereka mau buatnya apa. Kita memutuskan untuk buat whale tail dari botol air mineral. Di siang yang panas itu, di bawah atap tenda halaman kuil, kita mulai merakit sebagian badan paus dari botol yang disusun, hingga mulai buat base untuk ekornya. Karena gue biasa buat maket (dulu), jadi gue ga begitu kesulitan, dan mereka cukup depend on my idea how to construct the shape of this statue.

 

Saat sedang asik berkutik dengan prakarya, tiba-tiba Erik bilang kalo kita harus udahan dan pindah ke tempat lain. Lah, kita bingung karena kerjaan kita belum selesai. Tapi gue bilang ke mereka (temen-temen volunteer), ‘ya gapapalah kita tinggalin aja, toh kan mereka juga yang suruh beres-beres’. 

Eh ternyata, kita dibawa ke salah satu taman untuk ikut bantu warga yang sedang bebersihan, semacam kerja bakti gitu. Gue nyapuin daun kering yang rontok di atas rumput di pinggir taman. Ga pake sapu lidi yang biasa kita pakai di Indonesia, tapi pake semacam sapu kawat yang kaya’ ada garuknya gitu. Eh, enak juga ya nyapuin daun pake sapu begini. Sambil nyapuin daun, gue ngobrol sama Mi. Dia kaya’ kecapekan tapi masih ada excitednya juga sih dikit. Dari obrolah singkat itu, gue simpulkan bahwa ia berasal dari keluarga yang well-off  karena dia ga pernah bersihin halaman rumahnya. Padahal ini sudah jadi kerjaan gue tiap minggu. wkwkk.. Emang sih usia dia masih belia, tapi gue pikir 'masa ga pernah pegang sapu lidi sih?'. Tapi gue berusaha untuk ga kaget dengan bilang “so, there’s someone who help in cleaning your house”, dan dia meng-iya-kan. Tapi gaes, Mi ini paling pinter mandarin di anatara kita. Dia memanfaatkan waktu bebersihan ini dengan ngobrol sama warga lokal. Gue sempet ditanya umur, gue jawab “san shi san sui”, eh bapaknya malah kaget, kata Mi yang bantu translate “you looks younger”. Masa siiihhh…

 

Untugnya kegiatan nyapu halaman ini ga begitu lama, karena kita datang pas udah dibersihin lebih dari setengah halaman. Langsung kita balik ke office, dan gue jadi yang pertama mandi. Gila aja seharian gue bau sampah campur keringat dari matahari.

Malemnya, kita diajak makan di salah satu restoran deket office. Baeknya Jun mesen makanan yang sebagian besar ga pake daging. Tapi, kita jadinya ngerasa kurang kenyang dengan menu malam itu. Hehe… setelah makan malam, kita balik office untuk diskusi mau ngapain saat day-off di hari ke-4, sambil minum zenzhu naicha. Tapi kayanya minuman boba ini punya kadar kafein, soalnya gue dibuat ga bisa tidur semalaman. Damn. Buat kalian yang ga bisa minum kafein kaya’ gue, mesti hati-hati saat pesen minuman khas milk tea ini.

  

Cerita jalan-jalan di Taichung akan dibuat di postingan terpisah ya gaes..

 Day 2 -

Kegiatan dimulai dari jam 8 pagi, sarapan bareng di lantai bawah. Karena gue request menu no daging, prefer vegetarian, seafood and egg is okay, pagi itu dan beberapa pagi-pagi selanjutnya, gue sering makan sandwich isi salad.

 

Jadwal kegiatan pagi itu kita akan mengunjungi area pelabuhan Taichung untuk mengetahui kegiatan utama daerah ini. Jadi, kita ke semacam kantor polisi air gitu. Di sini, kita dijelasin gimana kerja area perairan sekitaran pelabuhan Taichung, seperti mengatur dan mengontrol izin kapal yang hendak masuk ke pelabuhan, patroli kapal yang sedang berlayar di lautan milik Taiwan, sampai memberikan penyelamatan kepada perahu nelayan saat kondisi bahya. Sayangnya petugas yang ngejelasin pake bahasa mandarin (Eric ga mendampingi kami pagi itu karena kayanya dia perlu ke kampus), subtitle video tontonan saat penjelasan juga pake bahasa mandarin, ya gue cuma bisa lihat gambarnya aja, sambil sesekali fotoin teks yang nongol untuk ditranslate pake google camera. Trus kita juga dijelasin tentang kondisi lautan Taichung melalui poster dan model/maket yang ada, lagi-lagi dengan bahasa mandarin. Tapi di posternya ada QR yang ada penjelasan dalam bahasa inggris juga. Bagus untuk dicontoh nih. Ada satu yang gue pelajari selama belajar pagi ini, bahwa laut/selat Taiwan di Taichung ini memiliki spesies khusus, jenis Lumba-lumba putih yang tidak ditemui di daerah lain. 

 

 

Trus kita juga dapet penjelasan mengani proyek wind turbin di lepas pantai Gaomei. Untungnya mba yang jelasin pake bahasa inggris, dan inggrisnya bagus. Proyek ini sebenernya bukan murni dari Taiwan, tapi hasil kerjasama dari negara barat (lupa tepatnya negara mana, kayanya Jerman). Berdasarkan penjelasan mba ini, selat/laut di bagian timur Taiwan ini menjadi lokasi strategis untuk meletakkan kincir turbin karena derasnya aliran angin di laut Gaomei. Hal ini terjadi karena kondisi geografis Taiwan yang memiliki perbukitan yang membentang dari utara hingga selatan di bagian tengah pulau, sejajar dengan panjangnya lautan di bagian timur pulau. Memang tidak mudah untuk memasang turbin angin di laut, perlu mempertimbangkan kerusakan yang akan timbul di dasar laut yang nantinya akan mengganggu kehidupan bawah laut. Jadi ada beberapa tipe pondasi turbin yang digunakan sesuai dengan kedalaman laut. Ga hanya itu, penolakan dari warga juga menjadi masalah penting lainnya. Kayanya masalah ini diatasi dengan perekrutan warga setempat untuk bekerja di perusahaan pembangkit listrik tenaga angin ini (mungkin ada juga skema beasiswa untuk warga setempat, gitu ya). Konon, jumlah listrik yang dihasilkan lumayan banyak.

Sebenernya banyak banget loh ilmu yang didapatkan pagi itu. Tapi temen-temen volunteer yang lain ngerasa jenuh, kaya’ kelas ceunah. Hahah.. kalo gue sih, hobi dapet info baru gini. Siangnya, kita lanjut ke area pasar pelabuhan untuk makan siang. Menunya, lagi-lagi sandwich. Punya gue ada isian kaya’ sweet potato gitu. Enaakk~. Trus dibeliin minum milk tea juga. Eh iya, di Se7el daerah Taichung ini, ada beberapa snack halal dan dari Indonesia. Setelah gue bandingin dengan se7el lainnya, apalagi di Taipei, se7el di Taichung Port ini kayanya emang mengakomodasi kebutuhan pekerja migran gitu, salah satunya dari Indonesia.


 

Setelah makan siang, kita sempet jalan-jalan keliling pasar. Di sini ada area basah yang banyak jual produk segar lautan. Terus ada toko-toko yang menjual produk hasil olahan, semacam snack cumi kering gitu. Temen-temen volunteer yang dikomandoin oleh Max pada nyicipin. Nyicip aja, beli kagak. Dan mereka pun ketawa-ketawa. Wkwkk.. trus ada juga restoran di tepi laut gitu. Tempatnya cenderung sepi, apa mungkin karena weekdays dan siang hari kali ya. Di bagian luar ada semacam tempat lelang ikan kayanya, soalnya banyak box-box plastik gitu, tapi udah ga ada aktivitas apa-apa lagi. Di sisi lainnya, banyak juga food stall/street food gitu. Tempatnya compact sih fungsinya. Parkirnya juga luas. Cucok untuk dijadikan destinasi wisata saat mengunjungi bagian barat Taichung.

 

 

 

 

  

Setelah makan siang, kita lanjut ke dataran Gaomei. Belakangan gue baru tau bahwa Gaomei adalah salah satu destinasi wisata unggulan di Taiwan. di Gaomei inilah banyak kita temukan turbin angin yang dijelasin tadi pagi. Tapi karena temen-temen volunteer ga begitu tertarik, dan juga cuaca hari ini panas terik, diputuskan bahwa kita ga turun dari mobil. Padahal bagus loh gaes viewnya buat foto-foto. Lalu, kita diajak Jun untuk langsung menuju gedung Visitor Centernya aja. Seperti information center lainnya, banyak info tentang Gaomei di sini, mulai dari brosur, souvenir, sampe display foto semacam museum gitu. Tapi lagi-lagi kita kebanyakan duduk bengong aja di sini. Tempatnya juga sepi. sayang sih, kayanya juga masih perlu beberpaa sentuhan desain supaya jadi lebih menarik lagi. Jun kayanya ngajakin ke tempat  begini supaya kita bisa lebih kenal dengan daerah pelabuhan Taichung.  

 

 

Karena sudah bingung mau ngapain lagi, jadilah kita balik ke tempat penginapan, yang juga kita sebut sebagai our office. Sorenya kita diminta untuk menggambar konsep karya yang akan menjadi pekerjaan volunteer kita ke depannya. Kita terbagi menjadi 2 kelompok, untuk buat 2 gambar usulan. Dari briefing yang disampaikan dan aku pahami, gambar yang dibuat akan dipilih salah satunya, untuk dijadikan background panggung pentas musik gitu. Gue sempet nanya hal yang cukup teknis. Tapi entah kenapa banyakan temen volunteer pada gambar sesuka hati mereka aja, pokoknya tema lautan gitu. Gue ngebayangin gimana perasaan band yang bakal tampil dengan background yang macam gambar untuk anak TK ini. Hahah.. biarin dah. Gue saat itu berprinsip bahwa gue di sini hanya sebagai orang yang membantu aja, males banget kalo disuruh mikir juga.

 

Untuk makan malam, kita lagi-lagi jajan di salah satu night market dengan jatah uang 100 å…ƒ. Gue lupa nama night marketnya. Tempatnya tuh kaya’ lapangan parkir luas gitu. Kita datang saat matahari udah mau terbenam. Menurut gue pilihan makanannya ga terlalu banyak. Temen yang dari Thailand juga ngerasa tempatnya ga se-hebring night market di negara mereka. Cepet banget selesai muterin semua tokonya. Mana lagi harga makanan di night market ga semurah itu. Ga kenyang gue jajan 100 å…ƒ. Cerita pengalaman makan jajanannya, bisa dibaca di postingan ini gaes. 

Hari pertama ini kegiatannya ga banyak, karena masih pemanasan. Besok kita harus bangun lebih pagi untuk kegiatan volunteer lainnya.

Turun dari bus, aku menyeberang dan berjalan ke meeting point yang ditunjuk di flyer guidance. Jalannya ga jauh dari bus stop, dan sepi. Asik suasananya. Setibanya di titik lokasi dan melihat bangunan yang serupa dengan yang aku lihat di street view google maps, aku mengetok pintu. Aku tidak ragu salah tempat setelah melihat ada 2 koper yang kutebak adalah koper milik peserta lainnya. Saat aku mau buka pintu, eh ternyata sudah ada yang narik pintu dari dalam. Seorang wanita menyambutku sambil nanya dan memastikan bahwa aku adalah peserta volunteer. Yang akhirnya baru aku tahu bahwa wanita ini adalah Jun, leader kami untuk 10 hari ke depan. Yang aku tangkep, Jun adalah kepala desa di Wuqi. Pengen sih nanya apa motivasinya jadi kepala desa, karena aku ga minat sama sekali dengan profesi begini, not my passion. Mana dia sibuk loh ngurusin komunitasnya, pasti capek. Tapi Jun kayanya bukan orang sembarang juga, dia cerita kalo dulu pernah ke Indonesia dan australia, kan gaul tuh. Tapi kok malah mau jadi kades ya? Kalo di Indonesia, berapa banget sih bayarannya jadi kades?. Kalo kupikir kayanya dia emang ada panggilan hati untuk majuin daerahnya dan mensejahterakan warganya.

Balik ke cerita, aku dipersilahkan masuk ke bangunan semacam kantor/balai desa gitu. Siang itu, sedang ada kegiatan warga desa yang kalo aku lihat sekilas adalah para lansia, di ruang utama. Aku dipersilahkan masuk ke ruang tengah, yang saat itu sudah ada seorang perempuan muda sedang duduk, yang aku tebak adalah peserta volunteer juga. Dia adalah Miang, dari Thailand, mahasiswa yang sedang kuliah di hongkong. Terlihat bahwa dia berasal dari keluarga yang well-off, cantik, terawat, ayu. Dia ikut volunteer ini karena sebagai syarat wajib asramanya. Aku memang pernah baca di internet bahwa di negara barat semacam Amerika memang mensyaratkan mahasiswa untuk ikut kegiatan volunteer, klo di indonesia semacam KKN gitu.

Saat menungu, ada mba-mba menghampiriku ‘dari Indonesia ya mba?’ tanyanya. ‘Iya’ kujawab. Dan ngobrolah kami sebentar pakai bahasa Indonesia, awalnya mba ini (duh, lupa deh aku nama mbanya, klo ga salah mba Lia) ngomong pake bahasa jawa, tapi kubilang ‘duh, maaf mba, saya ga bisa bahsa jawa’. Kejadian seperti ini sering saya temui saat berpapasan dengan WNI di Taiwan. Wkwkk.. Eh, tapi kalo ku perhati’in, di Wuqi ini banyak juga loh TKI, mungkin mereka kerja di industri pelabhuan gitu kali ya. Bahkan di Se7el pun aku lihat ada biskuit bambo yang enak itu, ada logo halalnya, BOGO pulak, nyesel ga beli karena ternyata ga ketemu di se7el lain. Hiks..

Balik lagi ke cerita teman volunteer, setelah sekitar 30 menit menunggu, datanglah 2 teman volunteer lainnya beserta 2 orang lokal Taiwan. Satu perempuan muda dari Jepang, Harune. And when she introduce herself, told her name and where she come from, I told her “I know you’re from Japan because of your name”,  so obvious didn’t it. Moreover, the feature in her face and the way she speak is so Japanese. But she still quite surprise. Harune is really good in giving reaction when we told her something, so cute. Sifatnya yah tipikal orang Jepang pada umumnya, kalem tapi rajin. Harune juga masih mahasiswa. See.. aku sendiri yang paling tua di sini gaes, wkwkkk… but they are quite surprise when they heard Jun asked me “so, you’re a professor?” as written in the form she had. Eeehhh… “not professor yet, just lecturer”, I answered.

Satu volunteer lainnya adalah pria berusia 28 tahun, Max, dari Thailand juga. Jadi dia kadang suka speak Thai sama Miang. Max adalah orang yang bikin grup volunteer ini rame. dia bilang dia orangnya cuek, yah mungkin emang karena udah lebih tua dari yag laen, jadi hidupnya udah punya pegangan prinsip gitu. Max ini kerja di Australi. Kayanya dia emang hobi jalan-jalan, karena beberapa hari kemudian dia bilang “I think everyone in here is like travelling, like I do. I also saw it on your instagram as well (instagram gue maksudnya)”. Emang sih, bagi kami, volunteer itu cuma modus aja, tujuan sebenernya adalah jalan-jalan ke Taiwan. Wkwwkk.. Oh iya, Max bilang bahwa dia ngelihat aku di dalam bus tadi. Ga susah buat recognize a person who looks different with the locals, right? Gua yang perawakan ASEAN dengan hijab ini. Tapi dia agak ragu mau negor, ceunah. Dan dia bilang klo dia bingung kenapa aku turun duluan dari bus tadi, padahal google map dia nunjukin kalo pemberhentian masih jauh. Trus dia cuek aja, ngira kalo aku yang salah tempat berhenti. Eh ternyata malah aku yang sampe duluan di community center ini karena dia nyasar, malah dia yang kejauhan berhenti, jadinya dijemputin sama Eric. hahaha..

Eric adalah co-leader kami. Dia lebih banyak bantu komunikasi sebagai translator Jun, karena inggrisnya lebih bagus. Kalo ga salah usianya 23 tahun, masih mahasiswa juga. Jadi dia apply program ini untuk kaya’ nyari uang tambahan gitu. Locals satu lagi adalah Monica, masih muda juga, anaknya Jun. Jun pernah cerita klo adek ini tuh baru pindah lokasi sekolahnya, ga tau dah apa maksudnya doi baru masuk SMA atau Diploma, atau emang udah mahasiswa. Selain adek ini, ada juga temennya, Q-zi (gini apa ya tulisannya… soalnya mereka pake nama cina yang di-inggris-in gitu), yang kalo kutebak mereka seumuran. Tapi sayangnya mereka berdua ini clue-less sama bahasa inggris. Waduh parah sih menurutku. Karena ga bisa bahasa inggris, jadi mereka berdua ga berani inisiatif ngajak ngobrol kami. Gue yang pernah coba nanya mereka pake kemampuan mandarin gue yang limited ini, merekapun susah nangkapnya. Hahah.. Jadi gue juga bingung mau ngajak ngobrol apa sama mereka. Yang rajin ngajak ngobrol merela adalah Miang dan Mi, yang bisa dan paham dikit mandarin.

Setelah ketemu dan kenalan bentar, kami diajak keliling desa. Berdasarkan cerita Jun, Wuqi ini dulunya adalah desa nelayan. Ekonomi bergerak dari aktivitas nangkap dan jual-beli ikan dan hasil laut lainnya. Tapi karena perkembangan zaman sekarang, dan tingginya arus migrasi, Wuqi sudah mulai jadi desa yang sepi. 

Lanjut, kami diajak jalan ke salah satu kuil. Katanya tiap kuil itu punya dewa yang beda-beda. Kuil ini melindungi penduduk desa dari bahaya lautan. Kurang lebih gitulah yang gue tangkep. Gue masuk keliling kuil dong, kapan lagi harus masuk kuil begini. Hehe.. Sebagai tempat peribadatan, kuil ini punya banyak ornamen ragam hias dengan detail yang rame, menunjukkan hirarki bangunan yang tinggi. Di dalam patungnya juga banyak. Malah ada patung yang punya rambut dan latanya tiap tahun rambutnya tambah panjang. Gue yang agamanya tauhid gini lumayan serem sih sama syirik jadinya. 

Trus kita juga ke semacam galeri/experience gitu, bangunan Jepang. Di sini juga bisa coba pakai kimono buat foto dengan nuansa je-jepang-an, seolah sedang di Jepang gitu. Bangunan ini adalah peninggalan penjajahan dulu. Jadi gaes, Taiwan ini juga kena jajah Jepang. Banyak loh bangunan peninggalan Jepang yang dijadikan destinasi wisata di Taiwan. Peliknya politik dalam negeri Cina dan lepasnya Taiwan dari jajahan Jepang atas bantuan blok barat, kayanya buat Taiwan ga mau gabung ke RRC. Kadang gue juga ngerasa kok kuat banget ya budaya Jepang yang masih dijaga di Taiwan ini, kaya’ mereka lebih bangga sebagai negara yang pernah bareng Jepang, daripada menyebut diri mereka sebagai bangsa Cina. Kan kelihatan tuh dari bentuk bangunannya sekarang, yang mirip dengan nuansa bangunan di Jepang, seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya.

Setelah itu, kita lanjut ke toko roti. Katanya ini salah satu toko roti tertua di Wuqi, sejak tahun 1512. Roti khas yang terkenal bentuknya seperti sabit. Tapi isinya daging (mungkin daging babi). Aku ga nyicip. Tau diri juga sih sebagai muslim ga bisa bebas makan ini itu di negara minoritas islam. Aku bilang ke Eric (yang diterusin juga infonya ke Jun) bahwa aku ga bisa makan daging bukan cuma babi, tapi sapi dan ayam juga (setelah aku cari tahun di internet, lebih banyak ulama berpendapat bahwa ayam atau sapi itu harus disembelih oleh ahli kitab, untuk memastikan bahwa hewan itu bukan untuk sesembahan). I decided to be a vegetarian for next 10 days, tapi masih makan ikan / seafood dan telur sih. Jadinya aku dikasih mooncake, salah satu kue Taiwan yang terkenal juga. Jun bilang kalo mooncake itu isiannya bukan daging, cocok untuk vegetarian. Tapi fyi, aku pernah baca blog orang, dan tau dikit tentang resep kue, bahwa jenis kue pastry ini buatnya pakai lemak, yang ada kemungkinan lemak hewani untuk buat lapisan rotinya. So, please becarefull for my muslim friend.

 

Tempat tujuan akhir adalah toko buku (yang katanya punya Jun). Toko ini berdiri di bangunan lama yang telah direnovasi (semacam adaptive reuse gitu).Ciri khas bangunan lama cina, ada innercourtnya. Tapi di toko ini, innercourt sudah dibuat tertutup sih. Tapi interior tokonya asik, bagus, nyentrik estetik gitu. Di sini kita nulis kata-kata yang mau disampaikan untuk nanti dibuat semacam video wawancara perkenalan gitu. Ya, gue sih formal aja bilangnya makasih sudah diterima untuk datang ke sini, volunteer ini untuk kegiatan syarat pengadian di kampus, selesai program mau jalan-jalan lihat kota-kota di Taiwan. Ga ada yang spesial, mana gue disuruh pertama maju pulak. Ga bisa nolak, karena ga boleh malu-malu, nanti malu-maluin Indonesia. Hehe…

 

Selesai dari toko buku, program jalan-jalan sore itu dinyatakan selesai. Kami dikasih masing-masing 100ntd untuk jajan di night market dekat kuil. Sebelum ke kuil, kita sempet mampir ke SEA-Mart, toko yang menjual produk ASEAN. Banyak juga produk Indonesia. Biskuit nabati rasa keju tuh mendunia yah.. Keberadaan supermarket ASEAN ini cukup menunjukkan bahwa di daerah ini banyak juga pekerja dari ASEAN, salah satunya Indonesia.

Setibanya di kuil, 3 temen ini ngerasa pilihan makanan kurang variatif dan ga terlalu menarik. Yang aku lihat ada jamur goreng yang bisa dimakan untuk muslim. Tapi karena ga ada yang beli, gue juga jadinya ga ikutan beli. Dalam hati, lumayan bisa dapet tambahan duit kalo dihemat. Hahah.. mereka bertiga memutuskan untuk makan di salah satu restoran jepang di dekat kuil. Karena gue bingung nantinya harus pesan makan apa, ga ngerti halalnya gimana, jadilah gue pamit ke mereka untuk pulang duluan aja sendirian ke community center. Kan gue udah ada beli nasi ayam goreng halal tadi. Makan yang itu ajalah. Pas tiba di community center, sempet bingung juga gimana mau masuk, karena ada anjing yang jaga dan sibuk gonggong. Lumayan lama di luar, untung ada pegawai yang bukain pintu dari dalem. Lanjutlah gue sholat setelah numpang ambil wudhu di toilet, trus makan. (Review makanannya di postingan terpisah ya gaes).

30 menit setelah makan, datanglah rombongan 3 teman volunteer tadi. Ga lama, kita diajak cabut ke tempat tinggal kita untuk 10 hari ke depan. Oh, kukira tadinya kita bakalan tidur di balai desa ini. Ternyata kita dibawa ke kantor Jun yang lain. Ga jauh, paling cuma 5 menit naik mobil. Tempatnya ruko gitu. Kita tidur di lantai 2, kamar bagian depan (yang cewe-cewe ngumpul semua karena ruangnnya besar, jadi cukup untuk ber-8). Di bagian tengah lantai 2, ada kamar mandi yang terpisah antara area shower dan toilet, jadinya lumayan aman, ga rebutan kamar mandi. Di bagian belakang ada satu kamar kecil yang ditempati oleh max dan eric. Oh iya, kita tidak disediakan kasur, tidur di lantai. Untungnyaaa gue udah browsing dan siapin kasur angin/tiup, aman badan gede ini ga sakit tidur di permukaan keras. Di flyer memang kita diminta untuk bawa sleeping bag masing-masing, tapi kan tetep yak ga seberapa tebelnya sleeping bag, masih berasa tipis. Selimut macam bed cover disediain, lumayan untuk alas kasur tadi. Ada juga yoga mat yang boleh dipinjem. Iya, kamar ini multifungsi, dijadiin sebagai tempat Yoga setiap hari selasa dan jumat. Jadi kami harus beres-beres packing barang ngosongin kamar setiap paginya di hari tersebut. Seru juga sik. Hahaha…

Malam itu, datang lagi 2 temen volunteer dari Vietnam. Mereka kemaleman karena katanya nyasar. Waduh. 1 orang Vietnam bernama Mi, yang ternyata dia ini baru mau kulaih, how young! Anaknya kelihatan anak baek-baek juga. Dia ngajakin ngobrol, bilang kalo dulu pernah ikut volunteer di Thailand, dan ada orang Indonesia juga pesertanya, cewe’ pake hijab. Dia bilang kalo dari pengalam itu, dia tahu bahwa orang islam itu harus sholat tiap harinya. Denger dia bilang gini, agak lega sih karena gue ga perlu bingung untuk sholat di kamar. Hehee.. Tapi dia bilang kalo sebagai orang vietnam, di negaranya ga begitu terikat dengan agama, jadi mungkin buat dia fascinating a bit ngelihat orang yang practice their religion.

Temen Vietnam satu lagi Mei, orangnya lebih aktif. Jadi kadang kami biarin dia untuk mimpin dan ambil keputusan apa aja tentang kegiatan kami, karena kami nih pada males, bingung, ga paham, mager gitu selama kegiatan. Hahaha. Aku ga terlalu banyak ngajak ngobrol dengan Mei, karena dia kelihatan bete selama program, jadi takut. Kayanya style dan energi kami juga beda, ga terlalu cucok. Tapi klo diperhatiin, dia ini orangnya baek juga, yang pasti mau kerja, showed she’s responsible enough.

Selesai cerita pengantarnya. Malam sebelum mandi dan sholat malam, kita sempet briefing sebentar untuk bahas rencana kegiatan 9 hari ke-depan. So excited to start my first international volunteering experience in Taiwan. Yeay~

Pesawat mendarat tepat waktu, menjelang siang di Taoyuan International Airport. Dokumen keimigrasian sudah disiapkan saat kaki menginjakkan gedung terminal. Sebenernya aku sempet baca di web bahwa WNI yang baru pertama kali ke Taiwan tidak perlu mengisi form permit. Tapi karena ada bannernya, dan banyak orang pada scan QR, aku ikutan juga ngisi sambil antri passport check. Eh, ternyata formnya ga diminta sama petugasnya, emang bener apa yang disampaikan di website. 

Setelah aman lewat imigrasi, visa gratisan TAC ga ada masalah, tibalah di area scan tas yang bikin aku deg-degan. Aku bawa sosis dan bakso instan itu loh gaes, mikirnya untuk cadangan kalo aku kelaperan susah makan nanti. Aturan di Taiwan, tidak diperbolehkan membawa makanan olahan dari daging. Udah siapin mental dan drama pura-pura bego ga tau kalo ada aturan itu kalo nantinya tasku digeledah dan dimarahin petugas. Tapi untungnya, aku AMAN, lancar!

Setelah ngambil bagasi, aku lanjut ke counter di luar, di bagian ujung, untuk ambil simcard dan Easy card, dua kartu yang nantinya aku sangat bergantung padanya selama 2 minggu di Taiwan. Aku pesen 2 kartu ini pakai Klook. Enak ih sekarang kalo mau ke luar negeri, ga perlu susah payah kebingungan pesen yang beginian karena takut terkendala bahasa dan uang tunai. Enaknya pesen di klook ini, kita bisa bayar bahkan pake e-wallet, ga perlu kartu kredit/debit visa/master card. Aku pesen simcard 4G yang unlimited data + pulsa nelpon 100ntd untuk 15 hari, dan 1 easy card dengan isi 400ntd, seharga Rp 561.151,-. Emang tergolong mahal untuk aku yang pelit. Tapi menurutku itu udah best deal dari pencarianku scrolling sana-sini. Setibanya di counter yang tertera di petunjuk aplikasi, kita tinggal tunjukin aja bukti pemesanan kita. Trus bisa juga minta bantuan mbanya buat nyalain simcard di hp kita. Btw, lumayan rame loh foreigner yang antri di counter klook ini saat itu.

Selesai urusan kartu sakti, aku yang full-prepared yet well-planned sudah tau bahwa harus menuju lantai bagian bawah bandara untuk ke terminal bus antar kota. Memang ada juga pilihan naik kereta, tapi setelah kupelajari, kayanya agak ribet kalo mau transit pindah moda transportasi. Perbedaan waktu tempuh dan biaya juga tidak begitu signifikan. Maka aku memutuskan untuk naik bus saja, seperti instruksi yang tertera di flyer guidance yang dibagikan panitia. Tidak sulit memesan tiket bus ke Taichung, karena ada tulisan abjad-english nama-nama kota di atas loket. Pun kalo salah loket, bakalan dikasih tau petugas loket mana yang benar. Tapi, saat pemesanan, kita harus menyebutkan di mana titik pemberhentian kita nantinya. Peta rute dan nama pemberhentian dengan abjad-english tertera juga kok di loketnya. Berdasarkan petunjuk google map, aku sebaiknya berhenti di Science Museum karena halte bus stop untuk transit ga terlalu jauh. Saat itu, aku dapat bus seharga 325ntd. Setelah dapet tiket, aku ga perlu nunggu lama, busnya sudah datang. Petunjuk dan informasi platform di sini juga jelas. Tempat duduk di busnya enak, lapang. Siang itu, penumpangnya ga banyak, cenderung kosong malah.

  

Waktu tempuh dari Taoyuan International Airport menuju Taichung adalah sekitar 2 jam. Aku perhatikan di luar, jenis pohon ga terlalu beda jauh dengan yang ada di jalanan di Indonesia, hijau dan rimbun. Tapi untuk tampilan bangunannya, aku merasa ada kesan seperti gaya gedung di Jepang yang kotak gitu.

Setelah sempat tertidur sebentar, aku melihat suasana jalan yang sudah mulai berubah, ramai oleh padatnya bangunan middle-rise. ‘Sudah masuk kota Taichung nih’ pikirku. Aku pun bersiap untuk memencet bel saat kulihat gps hp sudah mendekati pemberhentian ‘Science Museum’.

Secara umum, suasana visual kota Taichung tidak terlalu berbeda jauh dengan kota-kota besar pada umumnya, atau bahkan dengan suasana kota-kota di Indonesia. Tapi 3 hal lain yang menjadi kesan ku saat tiba di Taichung ini adalah : 1) halte busnya gede, dan desainnya menarik; 2) banyak yak sepeda kuning parkir pinggir jalan. Yang akhirnya aku tahu bahwa ini adalah rent-bike; 3) orang lokal pada pake payung untuk berlindung dari panas matahari yang menyengat.

Aku lanjut nunggu untuk naik bus ke Wuqi, setelah menyeberang zebra cross, karena halte busnya berada di sisi jalan yang berlawanan arah. Di dalam bus, penumpangnya lumayan ramai. Kayanya ga ada tempat duduk kosong, jadi aku berdiri di bagian depan bus sambil megangin koper. Sempet kagok juga sih karena baru pertama kali naik bus umum di Taiwan, mana lagi tampilanku dengan hijab ini kelihatan beda banget kan yak dengan warga lokal, ketauan banget foreignernya. Aku juga ngerasa perlu belajar perhatiin orang gimana cara turun busnya, lewat pintu mana, pencet bel gimana, perlu tap kartu ga (untuk yg ini, untungnya aku masih inget aksara before-after yang diajarin laoshi, jadi bisa tebak bahwa perlu tap kartu sebelum naik dan sesudah turun dari bus). 

 

Tapi gaes, aku ada misi lain siang itu, mampir beli makan ayam goreng halal dulu sebelum lanjut ke meeting point tempat volunteer. (Cerita gimana experience ku dengan makanan halal di Taiwan nanti aku buatkan di postingan terpisah). Jarak toko sekitar 400m dari bus stop. Setelah dapet paket ayam goreng pake nasi, aku balik lagi ke pemberhentian tempat aku turun tadi. Eh, pas cek google maps, oh ternyata mesti nunggu lama. Kalo mau yang agak cepet, bus stopnya harus jalan balik ke arah toko ayam goreng tadi. Aku ga mau jalan lagi karena udah cape, males juga geret koper, dan cuaca panaasss. Jadi ditahan-tahanin aja nunggu dibawah bayangan pohon kecil. Hampir setengah jam nunggu, busnya datang~

 

Tidak perlu waktu tempuh yang lama untuk tiba di Wuqi. Bus pun sudah cenderung kosong oleh penumpang. Aku berhenti di jalan yang lebaarrr tapi tidak ramai kendaraan, dan bangunan yang low-rise. Pokoknya terasa banget kesan ‘bukan kota’, karena ini emang sudah masuk daerah pinggiran. Tapi ya ga juga seperti suasana ‘desa’ yang ada di Indonesia, yang banyak pemandangan hijau dan sungai gitu.

Untuk yang masih belum tau, sebenernya selama tahun 2023 aku apply banyak pendanaan beasiswa, dan belum ada yang berhasil. Aku kan sedih gagal berkali-kali (sampe udah mau abis jari ini ngitungin jumlah aplikasi yg di-submit, udah mulai malu minta surat rekomendasi terus ke pembimbing S2). Sampai tiba saatnya libur lebaran tahun 2024, pas lagi asik-asik scroll ig sambil tiduran di sofa ruang tamu (salah satu tempat pewe buat tiduran santai di rumah), tampil iklan algoritma berjudul "Pengabdian Internasional" dan "Taiwan". Trus aku slide postingannya, ada terbaca kata-kata "House renovation". Awalnya aku emang ga begitu tahu tentang kegiatan international volunteer ini. Tapi emang pernah lihat beberapa postingan promosi yang intinya semacam kegiatan KKN di berbagai provinsi di Indonesia gitu. 

Taiwan belakangan masuk ke dalam radar pencarian rencana calon kampus untuk studi lanjutku. Sementara pengabdian adalah salah satu tugas kerjaan yang sebenernya paling ga menarik buatku. Karena ku pikir "lumayan lah ya kalo ikut kegiatan ini bisa jadi poin pengabdian", dan juga "Mumpung ada alasan untuk ke Taiwan. Soalnya aku emang masih belum tertarik klo cuma liburan jalan-jalan aja ke Taiwan", Langsunglah aku email Dejavato Indonesia untuk mengetahui info lanjut mengenai Pengabdian Internasional di Taiwan ini. Saat itu, kegiatan international volunteering yang diadakan oleh VYA Taiwan memiliki sekitar 10 tema (klo ga salah) untuk waktu penyelenggaraan yang berbeda-beda (tapi semuanya berlangsung di pertengahan tahun). Selain tema "old house renovation" tadi, ada juga tema "make river smile again" (kurang lebih gitu judulnya). Di tema kedua ini, mereka menuliskan bahwa lebih menyukai pelamar dengan background seni, lansekap, dan arsitektur. "Nah, pas banget!" Kupikir. Kayanya ga bakal banyak saingan kalo aku coba apply program yang ini. Walopun aku juga sebenernya ga begitu jelas apa kaitan background tadi dengan detail kegiatan yang tertulis di pamfletnya. 

Sebelum menetapkan keputusan untuk lanjut mengisi aplikasi, aku sempet cari banyak info buat mastiin bahwa organisasi (Dejavato) adalah valid, bukan abal-abal dan tipu-tipu. Sempet juga nanya-nanya via email ke mereka untuk memastikan biaya yang harus dibayarkan. Karena awal tahun 2024, pernah ada isu penipuan mengarah human trafficking berkedok magang mahasiswa yang diselenggarakan organisasi yang bekerja sama dengan kampus. Setelah dipastikan bahwa saya hanya perlu bayar 100rb untuk pendaftaran, dan 950rb lagi kalo nanti terpilih,  barulah saya siap-siap mengisi form aplikasi dsb beserta motivation letter. Oya, klo yg dari saya pahami, total uang 1,05jt tadi digunakan untuk membayar biaya keanggotaan Dejavato yg menginduk ke organisasi international volunteer, yang bekerja sama dengan lembaga-lembaga di negara lain. Makanya mereka saling tukeran program dan tenaga sukarela, gitulah pokoknya. 

Selain isi formulir (yang juga ada disuruh jawab-jawab pertanyaan terkait kegiatan volunteer), berkas lain yang disiapkan seingetku adalah izin dari tempat kerja/sekolah/orang tua, surat keterangan sehat (formatnya sudah ada, jadi bisa langsung minta dokter klinik kampus buat bantu isiin), dan motivation letter. Konon kalo dari pengalaman orang yang aku baca di blognya, motlet ini adalah salah satu hal penting yang jadi pertimbangan lolos-tidaknya aplikasi kita. Untuk motivation letter dan biodata, aku ga begitu susah karena seperti yang kubilang di awal klo aku udah apply banyak beasiswa, jadi sudah ada masternya, tinggal edit-edit dikit sesuai kebutuhan aja. 

Setelah apply (mepet waktu deadline), minggu depannya aku diminta video call wawancara dengan pihak Dejavato. Mas yang nge-wawancara masih muda, jadi ya cukup santai suasana dan pembawaannya. Aku cukup pede krn aku ngerasa motivasi aku cukup oke: (1) untuk belajar kegiatan pengabdian di luar negeri krn aku suka mandek untuk cari tema pengabdian di kampus, (2) program yang aku ambil sesuai dengan background keilmuan, (3) lokasi pengabdiam punya geografi yang sama dengan tempat aku tinggal dan kerja sekarang, harapannya pengalaman nanti bisa cocok untuk dibawa dan diterapkan juga di Indonesia. Tambahan lainnnya ya karena aku pernah juga ikut kegiatan internasional (non-akademis / social media influencer) dengan peserta dari negara lain, dan emang sudah punya pengalaman jalan ke luar negeri sendiri (tanpa travel agent). Sekitar 1 minggu berikutnya, keluarlah pengumuman kalo aplikasiku diterima oleh pihak VYA Taiwan. 

Sebenernya, alasan lain aku ambil dan ikut program ini adalah karena tiket pesawat ke Taiwan ga mahal-mahal banget ternyata, sekitar 4jt PP. Ya, tiket pesawat dan transportasi lain dari rumah kita sampai tempat kegiatan di Taiwan (kegiatanku tepatnya di Taichung), harus kita bayar sendiri, termasuk persiapan dokumen imigrasi (paspor dsb). Tapi untungnya kegiatan yang aku ikuti, atau kebanyakan kegiatan yang ditawarkan VYA Taiwan adalah "partially funded". Mereka siap menanggung makan, tempat tinggal, peralatan untuk kegiatan, hingga asuransi kesehatan/keselamatan kerja selama kegiatan. Lain dari itu, pakai uang kita sendiri. 

Visa Taiwan

Saat video-meeting di minggu selanjutnya dengan ketua Dejavato, beliau bilang bahwa "ke Taiwan berarti harus disiapkan Visanya". Trus aku langsung panik, whattt??! emang ke Taiwan pake visaa??!! Ohemji, sempat cemas karena ini hal yang tak kuduga. Kukira Taiwan sudah bebas visa seperti Hongkong dan Macau.  Kan juga sudah banyak dan umum yak TKI kerja ke Taiwan, masa' ga ada kemudahan sik dari hasil hubungan bilateral ini. Kok kayanya kemaren-kemaren aku baca info klo WNI bisa bebas visa (or at least voa gitu). Sejujurnya sungguh ku tak sanggup kalo harus ngurus Visa ke Jakarta, ga sanggup di ongkosnya. Mana sudah pasti keluar uang ratusan ribu untuk bayarnya. 

Kuselamilah google mengenai info 'Visa Taiwan'. Dan aku menemukan info yang membuatku tersenyum lebar. Untuk WNI yang pernah memiliki Visa dari beberapa negara, salah satunya Korea Selatan, dalam 10 tahun terakhir, bisa mengajukan Travel Authorization Certificate (TAC). Pengajuannya juga mudah karena cuma isi form online aja (ga perlu ke kedutaan di Jakarta). Selain visa negara lain tadi, syaratnya adalah harus ada bukti bawa visa tsb sudah pernah dipakai (bisa pake cap di visa atau lembar kertas izin tinggal gitu). Poin penting yang harus diisi adalah nomor visa, tanggal kadaluarsa visa, dan tanggal kedatang dan kepulangan dari Taiwan. TAC ini hanya berlaku selama 14 hari. Hari pertama mulai dihitung keesokannya setelah tiba di Taiwan. Jadi sebenernya totalnya adalah 15 hari. Dalam kasusku, aku berangkat tanggal 21 Agustus dari Jakarta (CGK), tiba di Taiwan (Taoyuan) tanggal 22 Agustus pagi, tiket pulangku tanggal 5 September. Pas 15 hari, karena aku ga mau rugi, hahaa.. . 

Kalau semua info di aplikasi sudah diisi, dan sudah pencet tombol submit, langsung jadi deh kertas TACnya. Gercep banget kan gaes. Tinggal di print di A4 (jangan lupa save pdf file dulu ya untuk jaga-jaga serepnya). Dan siap dibawa untuk ditunjukkan ke petugas bandara. 

Oya, untuk visa koreaku, kebetulan masih nempel di paspor lama yang sudah kadaluarsa. Tapi masih tetap bisa dipakai kok, dan harus dibawa untuk ditunjukkan saat check-in pesawat dan lewat imigrasi. 

Untuk cerita maskapai yang aku pake, akan aku tulis di post terpisah. 

Menyiapkan Barang Lainnya

Selain visa, hal lain yg perlu diperhatikan saat ke luar negeri adalah jenis lobang colokan. Sayangnya bentuk di Taiwan beda dengan Indonesia, jadi kita harus beli converter. Tapi entah apa karena harganya murah, converterku susah nyolok masuk, dan sempet kesel krn ga masuk tadi, ya listriknya ga bisa nyambung. Satu trik yg kucoba di hari terakhirku di Taiwan adalah, converternya di goyang-goyangin pas dicolok, biar dia dapet posisi yg pas di lobangnya. 

Barang lain yang diminta pihak penyelenggara untuk disiapkan adalah payung, kacamata hitam, sunblock, botol air minum, obat nyamuk (autan gitu), detergen, sabun, shampo. Saat lihat info ini, aku baru tersadar kalo aku akan berangkat ke Taiwan saat musim panas. Oh no!. Aku selalu berfikir buat apa liburan musim panas ke luar negeri, toh di Indonesia kita juga udah sering kepanasan sampe kerontang dan kebakaram hutan. 

Botol aman, sunblock aman. Kacamata hitam bisa pinjem punya nyokap, walopun akhirnya jarang dipake krn aku sendiri udah pake kacamata minus. Autan juga udah disiapin tapi ga jadi dipake karena kamar tidur kita ruang tertutup pake AC.  Untuk payung, tadinya kukira buat hujan (spt yg tertulis dari pihak penyelenggara). Tapi setelah sampai Taiwan, baru kusadari bahwa banyak banget orang pake payung anti UV. Dan aku bawanya payung transparan, cuma buat menghalau hujan saja. Walhasil payungnya ga kepake, krn cuma hujan 1 hari dan payungnya kutinggal di kamar 😂. 

Tambahan yang aku siapkan adalah setrika kecil. Aku berencana bawa koper kecil aja, karena takut terlalu heboh dan dikira mau liburan beneran klo bawa koper gede. Jadinya ga bisa bawa banyak pakaian ganti dan harus nyuci. Supaya pakaian tetap rapih dan jilbab selalu slay, pakaian yg sudah dijemur bakalan disetrika, kupikir gitu. 

Snack, indomie, mie gelas, sambal juga barang wajib bagi pelancong muslim saat ke luar negeri, untuk menjamin perut tetap terisi. Eh, aku jg sebenernya sempet bawa 1 sosis instan dan 1 bakso instan yang bungkus merah. Seharusnya sih produk olahan daging dari luar negeri ga boleh masuk Taiwan. Sempet deg-deg-an juga pas lewat clearance di TPE, dan udah siapin sandiwara pura-pura bego ga tau sama aturan tsb klo dicegat petugas. Tapi untungnya aku bisa aman lewat. Mungkin krn aku ga banyak bawanya, dan juga ketumpuk campur dgn seabrek barang dan snack lain di ransel. 

Belajar bahasa Mandarin

Memang kalo dari aplikasi volunteer tidak diwajibkan bisa berbahasa Taiwan. Tapi, agar lebih mudah bersosialisasi dengan warga lokal dan untuk menjamin solo tripku nanti berjalan lancar, aku ngerasa kalo kemampuan bahasa negara setempat  juga diperlukan.

Aku beneran ga bisa sama sekali bahasa mandarin. Jadi, sejak dinyatakan diterima untuk program volunteer ini, aku berencana membiasakan telinga mendengar percakapan dalam bahasa mandarin dengan cara menonton drama Taiwan. Apalah yang gue tau kan cuma meteor garden yak (keliatan banget kan umurnya. Wkwkk), akhirnya aku coba nanya ke salah satu temen yang suka nonton drama chinese untuk minta rekomendasi dia. Dari situ, aku baru tau kalo ternyata di Taiwan tuh pake bahasa mandarin. Hahah... Kirain kaya' Hongkong, kan beda yak bahasa mereka (sekarang jadinya hapal klo hongkong itu pake bahasa hokkien). Jadi karena yang aku pahami dari penjelasan temenku ini bahwa mandarin Taiwan dan China itu beda dialek, yaudah aku hajar aja nonton drama-drama china di youtube (biasa, gratisan). Dari situ, algoritma youtube ku mulai rekomendasiin banyak drama china yang ternyata bagus-bagus ceritanya~ Kayanya nanti bakal buat postingan khusus buat rekomendasi drama china deh.. 

Selain nontonin drmaa chinese, aku juga mulai aktif mencari info apapun berkaitan dengan Taiwan, salah satunya belajar bahasa mandarin untuk pemula. Hingga akhirnya algoritma IG mengantarkanku ke akun Taiwan Education Center Indonesia. Saat itu, mereka sedang buka kelas mandarin online khusus untuk pemula GRATIS! sesuai motoku "yg gratis ga boleh disia-siakan", akhirnya aku daftar, dan diterima. Total belajar 15 jam, 4 jam setiap hari minggu. Alhamdulillah, les mandarin ini sangat membantu aku untuk bisa menguasai 1 bahasa asing tambahan. Terlebih, kalo kamu selalu ikut (isi absen) kelas online dan nilai post test diatas 70, bisa dapat sertifikat!. Untungnya dobel banget ga tuh. 

Aku sempet ga nyangka kalo aku bakalan belajar dan bisa sedikit mandarin. Karena sebelumnya aku ga ada minat sama sekali dengan bahasa mandarin, terdengar aneh di telinga. Tapi pada akhirnya, aku berani untuk cobain sedikit kemampuan bahasa mandarinku saat komunikasi dengan penduduk setempat di Taiwan. Seneng~

-------


Ini cerita lebih lengkap mengenai pengalaman kegiatan relawan internasional pertamaku.

Saat tiba di Taiwan.

Pengantar cerita pengalaman volunteer bersama rekan dari Vietnam, Thailand, dan Jepang. 

Cerita volunteer (part 1), Cerita volunteer (part 2), Cerita volunteer (part 3), Cerita volunteer (part 4), 

Gimana aku survive dgn makanan halal / muslim friendly. 

Pengalamanku cobain Street Food di Taiwan.

Rekomendasi destinasi wisata di Taichung. 

Oleh-oleh halal Taiwan.

Pengalaman buruk di akhir liburan ke Taiwan

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Travel, Architecture, Korea, Guitar
Hit me a message on

db.guitar.arch@gmail.com

Contact me

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • CNBLUE t-shirt
  • Voice of Murder - Korean movie
  • Liburan Kulur-Kilir
  • Suncheon Bay National Garden
  • You're Beautiful - Korean Drama

Label

korea jalan-jalan liburan entertainment arsitektur AkuDanKorea KeKoreaAja Badminton Music Makan chord guitar Film Jepang Temen other Taiwan sahabat korea promotion Malaysia Singapore HongKong Lombok palembang game Bali
Diberdayakan oleh Blogger
Punyakubae

Total Tayangan Halaman

Translate

Follow

Designed by OddThemes | Distributed by Blogspot