Hattrick Korea
Day 4
Changdeokgung
Begitu
memasuki gerbang, gue menikmati setiap langkah kaki, because it’s my first time
go inside the Palace. Banyak pepohonan gede dan rindang di pelataran depan
dekat dengan gerbang utama istana Changdeokgung. Konon sih, dahulu kala, Changdeokgung ini adalah istana tempat tinggalnya keluarga kerajaan. Enak
banget yak tinggal di tempat adem begini. Sayangnya, siang itu kita ga
didampingi oleh tour guide. Bingung gue sama jadwalnya free tour guide, jadinya
kita ngider-ngider sendiri di dalam kompleks istana tersebut.
Area
pertama yang kami kunjungi adalah Gwollaegaksa. Area ini padat oleh bangunan khas
tradisional korea berwarna merah dan hijau, jendela garis-garis vertical-horizontal, serta atap yang banyak ukirannya itu. So pasti ga ketinggalan buat
foto sana-sini. Pagi itu juga suasana masih ga rame. Tapi jangan terlalu excited karena kegirangannya harus disisakan untuk area lain. Ngerasa udah banyak
foto-foto, kita lanjut ke area berikutnya, masuk ke dalam area istana lebih
dalam, melalui gerbang berikutnya.
Ada pelataran luas dengan jalur lurus beralaskan batu beton dan tanah pasir di kiri-kanannya. Kemudian belok ke gerbang berikutnya, memasuki area dengan halaman yang luas dan bangunan tunggal di tengah ujungnya yang WAW. Dari ngelihat penampilannya dan komposisi letaknya aja udah tau kalo ini merupakan salah satu bangunan penting di istana ini. Yap, ini adalah area Injeongjeon tempat raja biasanya memberikan perintah atau rapat, dsb. Pintu bangunan Injeongjeon ini terbuka, jadi kita bisa ngelihat interior dalamnya. Singgasana sang raja. Tapi ga bisa masuk. Okeh, foto-foto lagi, sana-sini.
Puas foto, keluar dari area Injeongjeon ini, melewati gerbang berikutnya,
terlihat area terbuka yang luas lagi (mirip kaya’ masuk di awal tadi, tapi lebih
luas). Satu bangunan yang menarik perhatian gue karena detail ukirannya yang
cantik banget, Huijeongdang yang merupakan kediaman raja dan ratu. Tapi lagi-lagi ga
bisa masuk ke dalam bangunan.
Tepat di depan kediaman raja tersebut, terdapat taman melingkar yang ditanami pepohonan. Di sebelah Huijeongdang terdapat Seonjeonggak. Tapi karena kita kecapekan saat itu, jadinya kita duduk-duduk istirahat bentar di bawah pohon, sambil minum dan makan roti bekal dari hostel tadi. Ga jauh dari tempat kita duduk, ada pintu masuk ke area Secret Garden. Kita ga berencana masuk ke sana karena mahal euy bayar tiketnya (kecuali kalo emang kalian niat banget mau mengunjungi istana-istana di seoul, bisa beli pass yang jadinya lebih murah).
Selesai istirahat, atau kalo ada yang mau urusan toilet juga bisa, kita lanjut jalan masuk lebih dalam di kompleks istana ini. Ketemu bangunan yang feel-nya sedikit berbeda dari bangunan-bangunan sebelumnya. Ternyata ini adalah kompeks Nakseonjae, didominasi oleh warna putih, coklat tua, dan batu bata berwarna gelap. Kesan gue sih bangunan ini terlihat seperti hanok pada umumnya, tapi mungkin karena ada beberapa detail yang rame di atap dan jendelanya, terkesan bahwa rumah ini bukan rumah biasa. Kurang tau juga sih Nakseonjae ini awalnya digunakan buat apa. Tapi, belakangan gue baru tau bahwa kompleks ini masih digunakan oleh keturunan akhir (putri) kerajaan Joseon hingga 1989 (*bagi kalian yang nonton k-movie The last princess). Di balik kompleks bangunan Nakseonjae, ada taman dengan berbagai bunga bermekaran saat itu. Indah~. Tapi sayang kita ga bisa naik masuk ke tamannya lebih dalam, karena ditutup. Sebenernya sih, hampir setiap bangunan istana ini ga boleh dimasukin. Kita cuma boleh lihat-lihat aja.
Keluar dari kompleks Nakseonjae, kita mengunjungi kompleks Seongjonggak yang tadi kelewat belum di lihat. Menurut gue bangunan Seongjonggak ini tertata dengan cantik. Ada bangunan panggungnya, pepohonan, serta area berkontur. Memang nyaman kalo belajar disini, sesuai sama fungsi bangunannya.
Trus, kita juga mampir ke kompleks Seonjeongjeon. Kita sempet foto di bagian belakangnya. Uniknya komples ini, ada kaya’ bangunan jembatannya gitu.
Hari semakin siang, muali capek dan bosan, kita memutuskan untuk menutup penjelajahan istana korea.
Insadong
Letak restoran Osegyehyang tepat di ujung lorong kecil yang saya sebutkan tadi, dengan bangunan khas
korea, hanok. Seperti
adat timur pada umumnya, untuk masuk ke restoran ini, kita diminta lepas alas
kaki, jadi sepatu dimasukin ke loker. Meja makannya pun lesehan, duduk di
lantai. Dan siang itu, hampir semua meja penuh terisi. Untung kita masih dapet
1 meja kosong. Setelah duduk, kita dikasih buku menu. Harga maknan di sini di
kisaran 8.000 won. Ada menu appetizer, katsu, spaghetti, hingga set sup (찌개). Sempet
bingung sih mau pesen main course nya yang mana. Awalnya kita mau pesen menu
kaya’ sop daging gitu, tapi habis. Akhirnya kita pesen satu set menu ???? (lupa
namanya apa. Yang pasti adalah sop daging kuahnya merah kental), 1 냉면
(mie dingin) dan 1 mandu goreng. Kita juga minta nambah 1 mangkuk nasi. Untuk
nasinya, bisa pilih nasi putih atau nasi merah. Ga usah pesen minum
kalo di restoran korea, air putih gratis!. Ga usah pesen banyak menu juga
karena pasti ada banchan! (*tapi perlu karena ada juga menu yang ga pake banchan, tapi klo menu set pasti ada banchan dan nasi).
Beberapa saat kemudian, taraaaa…. Menu kita dataaannnggg~. Gue emang pengen banget pesen Naengmyeon, nyicipin apa rasanya makan mie pake es. Apalagi siang ini lumayan cerah dan capek abis jalan tadi. Sebelum makan, kita juga dikasih gunting, dan 이모nya kasih tau kalo gunting itu buat potong mie. Okkee… menurut gue rasa mie ini ga begitu enak. Hehe… rasanya ga gigit di lidah. Mungkin karena gue biasa makan indomie yang hanget, jadi pikiran udah ke-set klo mie ya mie rebus gitu. Mienya juga kecil dan kenyal. Gue yang males ngunyah susah banget nelen itu mie yang panjang. Kayanya ada baiknya klo mienya dipastikan di gunting-gunting dulu sebelum makan, karena susah gigit motongnya pake gigi sendiri. Tapi yang gue ga nyangka dari menu ini adalah ada buah pir di dalam kuahnya, dan buah pir ini ENAK! Pas banget sama kuah mienya yang dingin itu. Menu berikutnya adalah fried dumpling. Gue rela pesen ini karena dari beberapa review bilang kalo ini enak. Bener, ini enak~ lidah gue ga masalah nerimanya. Aplagi ada saos cabe cocolannya. Huummmmmnnn yuuuuummmm… dan menu utama kita siang ini adalah sop daging kuah merah itu. Ini juga enak!. Pas banget dimakan sama nasi dan banchannya. Banchan nya juga enak-enak. Tapi ga tau ya bisa nambah ato gak. Dan yang paling gue suka dari restoran ini adalah, karena mereka vegetarian, so pasti semuanya adalah olahan sayur, kedelai, dan jamur! Sehat broooo… walo demikian teksturnya sama dan mirip banget sama daging asli. Pokoknya laen kali, kalo gue ada rejeki ke Seoul lagi, PASTI mampir lagi deh ke sini buat makan, 꼭!
Selesai
makan, tujuan berikutnya adalah sholat. Kalo lagi jalan ke daerah yang jarang
muslimnya gini, pasti bingung kan mau sholatnya gimana. Untungnya gue tau kalo
di kantor KTO ada musholla. Berpindah kita ke tempat berikutnya menggunakan
taksi. Gue seneng pas naik taksi, karena ahjussinya ngerti waktu gue ngomong
“KTO office, 한국관광공사, 청계천”. Ceileee.. udah cocok nih
tinggal di sini. Wkwkwk…
K-Style Hub
Selesai
sholat, sambil nunggu nyokap, gue ngajak bokap ke area KPOP Experience. Kita
nyobain beberapa bilik virtual buat foto bareng artis kpop. Asli GOKIL banget!.
Kaya’nya gue jadi orang paling heboh ketawa ngelihat tingkah bokap gue. Big
star virtual halyu di sini adalah BIGBANG. (Desember lalu gue ga sempet nyoba,
karena pas diajak Nat, entah kenapa kaya’ eror gitu). Lagi
asyik ketawa, nyokap gue datang, tambah lah lama kita di sini. Semua dicoba.
Wkwkwk… Puas ketawa-ketawa, sebelum pulang, kita lihat-lihat brosur. Gue ambil
beberapa brosur yang menurut gue lumayan berguna nantinya, yang ga gue temuin
di bandara kemaren. Yang pasti gue ambil brosur tentang Jeju!.
Sebenernya
masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi di K-style hub sini (bacapengalaman gue desember lalu di K-Style Hub). Dan menurut gue K-style hub
adalah salah satu tempat yang HARUS kalian kunjungi kalo ke Seoul. Ga cuma buat
sholat, tapi banyak manfaat lain yang bisa kalian dapet di sini. Bahkan saat
kita udah keluar, baru nyadar di lantai 5-nya sedang ada program free membuat
semacam kerajinan gitu. Tapi karena kita diburu waktu, batal ikutan, karena
harus segera pulang ke hostel buat ambil koper.
Sebenernya sih males juga ya buat balik ke hostel lagi buat ngambil koper. Tapi untungnya penginapan kita satu arah, dan letaknya ga terlalu jauh dari stasiun subway. Ga butuh waktu yang terlalu lama juga. Lanjut kita naik subway, transit di stasiun Hongdae buat pindah kereta airport railroad. Transfer stasiunnya jauh naudzibleh. Geret-geret kaki aja, sambil geret koper berat. Ada baiknya bagi kalian yang mau transfer stasiun kaya’ gini disisain waktu yang cukup biar ga buru-buru, mengesh banget loh jalannya. Pake naik turun tangga juga. Hingga akhirnya nyape juga di dalam kereta.
Oh iya, ada yang unik dari stasiun kereta
di sini, yaitu jingle atau musik saat kereta akan datang dan berhenti. Kereta
dari arah tengah kota (seoul station) memiliki suara musik/jingle yang
berbeda dengan kereta yang menuju ke arah tengah kota (seoul station). Jadi,
hanya dengan mendengar alunan musiknya aja kita bisa bersiap-siap berdiri di
depan pintu bila kereta tersebut tujuan kita, atau santai-santai ga usah
kebingungan kalo itu bukan kereta kita. Dan juga, saat di dalam kereta, akan
terdengar suara music khas korea apabila kereta akan segera tiba di stasiun
transfer. So smart in unique way!
Gimpo Airport
Lanjut
kita jalan ke boarding gate. Sebelum masuk ke area waiting room, ada
pemeriksaan identitas dan tiket dulu di depan pintu. Bandaranya ga begitu gede.
Tapi entah kenapa kalo gue ngerasa kali ini banyak banget yang harus gue lalui,
ga kaya’ desember kemarin yang tinggal beres aja. Karena jam boarding masih
1 jam lagi, kita nunggu dulu. Kemudian terdengar panggilan untuk naik
pesawat tujuan Jeju. Pas gue menghampiri boarding gate, eh ternyata itu
untuk masakapi LCC lain. Jadilah kita pindah duduk persis di depan boarding
gate, takut kelewatan. Iseng gue nanya ke petugas, pesawat Eastar jet tentang jam boardingnya. Saat mereka ngelihat tiket boarding gue,
ternyata sodara-sodara… kita masuk dalam penumpang yang dicari-cari. What
happen?! Gue sempet bingung kenapa nama kita bertiga dicatet di kertas yang
dipegang petugas Namja tjakep tersebut *eeehh*. Takut dikira teroris gitu
(intimidasi minoritas). Usut-punya usut, ternyata di dalam salah satu koper
kita ada powerbank nyokap gue. yaoloh. Gue sempet cemas sih, takutnya kenapa-kenapa, apa kena denda, kena
pelanggaran terbang gitu. Tapi untungnya prosedur maskapai cukup kooperatif. Mereka harus
mengambil/menyita powerbank dari dalam koper, oleh karena itu mereka minta
password kopernya. Aelah, kita orang kampung mah ga pake begituan, gue bilang
“we used key, not password” dengan muka tebal menahan tingkah malu. Karena ditangani dengan baik, gue kasih kunci gembok koper emak gue, daripada satu
koper-kopernya yang mereka ambil. Trus mereka bilang kalo nanti kuncinya
dimasukin ke dalem koper. Dan kemudian memepersilahkan kami untuk masuk ke
dalam pesawat (antiran panjang penumpang sepesawat dengan kita dari tadi udah
mulai habis). Jadi ga enakan juga sih, apa pesawat kita
delay karena harus ngeluarin powerbank kita dulu. Sesaat sebelum masuk pesawat, namja
cakep tadi kembali menghampiri saya, sambil memperlihatkan foto bahwa
kunci gembok kita udah dimasukin ke dalam koper nyokap gue. aiiihhh… jadi gue
pengen minta kontak dia. Wkwkwk… (sorry, out of topic).
Jadi, dari pengalaman di atas, gue merasa pelayanan mereka sangat baik. Walopun kita salah, wajar kalo barang terlarang kita disita, tapi ga lebih dari itu, toh itu untuk prosedur keselamatan. Kalo dipikir-pikir, ini juga salah mereka, karena saat cek koper kita diawal (waktu check-in dan drop bagasi) ga ada konfirmasi dari mereka. Agak lambat kerjanya, karena janji(prosedur)nya cuma 10 menit inspeksi kopernya.
Jeju Airport
Di luar
terminal bandara, udah banyak orang yang ngumpul nunggu bus. Kalo gue liat,
banyak juga yang kebingungan. Gue coba lihat-lihat jalur dan jadwal bus di
papan dekat pemberhentian bus. Setelah sekian menit
menunggu dan makin banyak orang yang nunggu, gue pesimis kalo bakalan dapet
bus, lagian juga cuma 1 bus yang ke tempat tujuan kita. Akhirnya diputuskan
untuk mengganti jasa transportasi menjadi taksi, karena sebenernya lokasi penginapan kita ga jauh
dari bandara *sengaja*. Walo tetep ga bisa ngira-ngira sejauh apa, karena belum pernah ke sini. Tapi kayanya ongkos taksi dan bus buat bertiga juga ga beda jauh. Lagian juga kalo naek bus, musti jalan kaki lagi ke hotel.
Oke, kemudian kita mencari antrian taksi. Petunjuk jalan meunjukkan kalo kita harus nyebrang. Setelah nyebrang, terlihat uluran puuuaaannnnjjjjjaaaaannnnggggg antrian. OH MY GOD! Udah kaya’ maen uler yang di hp jadul itu aja. Sambil ngantri gue mikir, kapaaannnn giliran kita akan tiba karena jauh banget antriannya.
Setelah
mengerti dengan peraturannya, kita langsung ke kamar sendiri. Kamarnya luas. Kamar mandinya juga
luas (bisa tiduran, dibanding kamar mandi lain yang gerakin tangan aja susah). Overall,
mungkin karena ini hotel, bisa dibilang penginapan ini adalah yang paling baik
dari semua penginapan saat gue backpackern di korea. Walopun ga semevvah hotel bintang pada umumnya.
Selesai beres-beres dikit, kita jalan ke luar, mumpung belum terlalu malem. Niatnya mau nyari cemilan pengganjal lapar (padahal emang belum makan malem). Satu lagi nih alasan kenapa pilih hotel ini, selain dekat dengan Jeju city bus terminal, ada beberapa minimarket dekat situ. Emang deket sih, di seberang jalan, tapi pada kenyataannya, bagian tengah jalannya ada pager, jadi ga bisa nyeberang jalan sembarangan. Harus jalan dulu ke perempatan yang ada zebracross-nya, yang letaknya udah deket lagi ke terminal. Ampuunn.. untungnya masih tetep semangat karena baru juga nyampe. Di seberang jalan ini, deretan toko yang menjual makanan di malam hari lebih banyak daripada tepi jalan tempat hotel kita. Keluar masuk mini market, tetep bingung apa yang mau dibeli. Takut sama ke-halal-an-nya. Akhirnya cuma beli banana milk dan roti tawar di Tou le jours. Ada sih aneka jenis roti lainnya, tapi masih tetep takut makannya. Ada juga nasi putih instant, tapi gue bingung ini masaknya gimana, apa boleh masak di minimarketnya? Ga pernah gini sik ya. Biasanya kalo makan, tinggal buka tudung saji di meja makan aja. Susahnya nyari makan di tanah rantu minoritas. Di perjalanan pulang, kita lewat perempatan yang satunya lagi, ternyata di ujung jalan (keluar dari jalan kecil hotel, belok kanan) ada juga minimarket nya. Yaudah terlanjur, numpang lewat aja.
Bangun
pagi, siap-siap beres-beres barang karena kita mau check-out buat pindah. Tapi
siang ini, kita bakal jalan-jalan dan mampir dulu ke area kota lamanya seoul,
Insadong. Dan koper dititip di resepsionis hostel. Seperti biasa, rugi kalo ga
sarapan dan ga lupa juga buat nyiapin bekal. Pagi itu, sama seperti hari
sebelumnya, jalan dari hostel menuju stasiun subway, banyak papasan sama
cewe-cewe mahasiswa. Boleh nih yang cowo-cowo kalo mau nyuci mata nginepnya di
hostel sini. Wkwkwk… Dari stasiun Ewha, kita harus transit di City hall buat
ganti ke line 3 (orange) dan stop di Stasiun Anguk.
Changdeokgung
Gue
memilih untuk mengunjungi Changdeokgung diantara sekian banyak istana di Seoul
karena ini adalah salah satu istana yang masuk ke dalam warisan dunia (unesco).
2 tahun lalu, sempet sekilas ngelihat Gyeongbokgung. Tapi karena temen udah ke
sana dan mereka ga tertarik, jadinya kita cuma sampe Gwangwamun-nya aja. Kali
ini gue HARUS masuk ke dalam!
Dari stasiun Anguk keluar di pintu 3, sempet mampir ke Daiso buat beli sumpit. Dari stasiun, lumayan sih jalannya, apalagi ditambah kemaren-kemaren udah banyakan jalan. Hingga akhirnya tiba di depan bangunan yang beratapkan ciri khas arsitektur korea dan ada loket tiketnya. Awalnya gue sempet ragu, apakah ini benar Changdeokgung. Gue juga agak bingung ngelihat di peta, karena komplek istananya gabung sama bangunan bersejarah lainnya. Untuk memastikan, gue nanya di bagian informasi (dibalik loket tiket), dan mereka jawab “yes, right. You should buy the ticket first”. Harga satu orangnya 3.000 won. Biasa, bokap gue yang pelit awalnya ga mau, tapi gue maksa “ayolah pa, sudah jauh-jauh ke korea, masa’ ga masuk liat-liat bangunan kerajaannya”. Akhirnya kita masuk juga. Oh iya, gue lupa. Harusnya kita nyewa hanbok aja, biar gratis. Hihi…
Dari stasiun Anguk keluar di pintu 3, sempet mampir ke Daiso buat beli sumpit. Dari stasiun, lumayan sih jalannya, apalagi ditambah kemaren-kemaren udah banyakan jalan. Hingga akhirnya tiba di depan bangunan yang beratapkan ciri khas arsitektur korea dan ada loket tiketnya. Awalnya gue sempet ragu, apakah ini benar Changdeokgung. Gue juga agak bingung ngelihat di peta, karena komplek istananya gabung sama bangunan bersejarah lainnya. Untuk memastikan, gue nanya di bagian informasi (dibalik loket tiket), dan mereka jawab “yes, right. You should buy the ticket first”. Harga satu orangnya 3.000 won. Biasa, bokap gue yang pelit awalnya ga mau, tapi gue maksa “ayolah pa, sudah jauh-jauh ke korea, masa’ ga masuk liat-liat bangunan kerajaannya”. Akhirnya kita masuk juga. Oh iya, gue lupa. Harusnya kita nyewa hanbok aja, biar gratis. Hihi…
Front area of Changdeokgung Palace |
![]() |
Fasade detail Injeongjeon hall |
Ada pelataran luas dengan jalur lurus beralaskan batu beton dan tanah pasir di kiri-kanannya. Kemudian belok ke gerbang berikutnya, memasuki area dengan halaman yang luas dan bangunan tunggal di tengah ujungnya yang WAW. Dari ngelihat penampilannya dan komposisi letaknya aja udah tau kalo ini merupakan salah satu bangunan penting di istana ini. Yap, ini adalah area Injeongjeon tempat raja biasanya memberikan perintah atau rapat, dsb. Pintu bangunan Injeongjeon ini terbuka, jadi kita bisa ngelihat interior dalamnya. Singgasana sang raja. Tapi ga bisa masuk. Okeh, foto-foto lagi, sana-sini.
Tepat di depan kediaman raja tersebut, terdapat taman melingkar yang ditanami pepohonan. Di sebelah Huijeongdang terdapat Seonjeonggak. Tapi karena kita kecapekan saat itu, jadinya kita duduk-duduk istirahat bentar di bawah pohon, sambil minum dan makan roti bekal dari hostel tadi. Ga jauh dari tempat kita duduk, ada pintu masuk ke area Secret Garden. Kita ga berencana masuk ke sana karena mahal euy bayar tiketnya (kecuali kalo emang kalian niat banget mau mengunjungi istana-istana di seoul, bisa beli pass yang jadinya lebih murah).
![]() |
Huijeongdang area - inside Huijeongdang |
![]() |
Seongjonggak area |

Keluar dari kompleks Nakseonjae, kita mengunjungi kompleks Seongjonggak yang tadi kelewat belum di lihat. Menurut gue bangunan Seongjonggak ini tertata dengan cantik. Ada bangunan panggungnya, pepohonan, serta area berkontur. Memang nyaman kalo belajar disini, sesuai sama fungsi bangunannya.
Trus, kita juga mampir ke kompleks Seonjeongjeon. Kita sempet foto di bagian belakangnya. Uniknya komples ini, ada kaya’ bangunan jembatannya gitu.
![]() ![]() |
Nakseonjae area - Back yard garden |
Insadong
Dari Changdeokgung kita jalan kaki ke insadong. Jauh juga yaaa ternyata sodara-sodari…. Hufftt..
Akhirnya tiba juga di area yang banyak toko-tokonya, dan ada deretan pohon di kiri-kanan jalannya, Yeaiy tiba juga di Insadong-gil. Di area ini banyak jualan souvenir. Bonyok gue sempet masuk ke beberapa toko dan beli beberapa pernak-pernik buat oleh-oleh. Buat gue sih, harganya, ya namanya juga tempat wisata, jadinya harus ngeluarin duit banyak buat beli barang. Buat oleh-oleh diri sendiri, gue beli gantungan kunci bentuk topeng korea seharga 1.000 won satu bijinya.
Akhirnya tiba juga di area yang banyak toko-tokonya, dan ada deretan pohon di kiri-kanan jalannya, Yeaiy tiba juga di Insadong-gil. Di area ini banyak jualan souvenir. Bonyok gue sempet masuk ke beberapa toko dan beli beberapa pernak-pernik buat oleh-oleh. Buat gue sih, harganya, ya namanya juga tempat wisata, jadinya harus ngeluarin duit banyak buat beli barang. Buat oleh-oleh diri sendiri, gue beli gantungan kunci bentuk topeng korea seharga 1.000 won satu bijinya.
![]() |
Insadong - Souvenir shop |
Semakin jauh
jalan ke dalem, kita mampir ke Ssamjigil. Agak bingung sih gue harus ngapain
di Ssamjigil ini, jadinya cuma foto-foto di plazanya aja. Sebenernya niat gue
ke insadong buat makan siang, cari restoran vegetarian. Ada 2 referensi
restoran yang udah gue siapin. Pertama, gue cari restoran yang jual mie
tradisional korea (수제비/hand torn noodles). Walopun letaknya di lorong-lorong kecil,
gue berhasil menemukan restoran ini karena petunjuk jalannya dapet detail
banget. Tapi kalo gue pikir-pikir, pilihan menunya yang cuma mie aja, kaya’nya
kurang asik. Mana bokap pasti maunya makan nasi. Yaudah ga jadi. Kita lanjut
jalan muter nyari restoran yang satunya lagi.
![]() |
Gallery in Insadong |
Di
tengah pencarian kita juga sempet mampir ke salah satu galeri gitu, dengan
bangunan tradisional korea. Tempatnya enak, adem banyak tanaman, ada semacam
cafenya juga kalo ga salah. Kerasa ga kaya sedang di capital city aja. Selesai
liat-liat dan ngaso-ngaso di galeri tadi, kita lanjut jalan menelusuri
lorong-lorong di sekitar Ssamziegil. Jadi sebenernya di samping ssamziegil itu,
ada jalan kecil yang buuuaaaannnyyyyaaaakkkkk banget deretan restoran dengan
bangunan hanok. Tinggal pilih aja sih. Tapi gue ga bisa pilih sembarangan
karena banyak juga menu babinya. Muter-muter jalan dan lorong kecil udah hampir
satu jam, sampe rasanya mau nyerah ga ketemu restoran Osegyehyang. Yap,
restoran ini adalah restoran vegetarian yang cukup aman untuk disinggahi
muslim. Ternyata oh ternyata, letaknya itu persis dari jalan kecil samping
ssamziegil itu, masuk luruuusss… sampe mentok dan nemu lorong kecil (agak
tricky sih lorong kecil gini, karena di sana banyak banget lorong semacam gini.
Tinggal nasib yang menuntun mata buat ngelihat papan bertulisakan
“vegetarian”). Gue agak susah nemunya karena hampir semua papan nama resotarn
tulisan hanguel semua, pusing jadinya nyari tulisan Osegyehyang. Mana bonyok gue yang kasihan sama gue niat bantuin nyari tulisan "osegyehyang", asal nunjuk aja yang ada buletannya, tapi ternyata bukan. udah nunjuk manggil-manggil gue, ternyata salah sambil bilang "eh, bukan yaaa, beda garisnya" duh -_-.
Small alley beside Samjigil, way to Osegyehyang restaurant |
![]() |
Inside Osegyehyang restaurant |
Beberapa saat kemudian, taraaaa…. Menu kita dataaannnggg~. Gue emang pengen banget pesen Naengmyeon, nyicipin apa rasanya makan mie pake es. Apalagi siang ini lumayan cerah dan capek abis jalan tadi. Sebelum makan, kita juga dikasih gunting, dan 이모nya kasih tau kalo gunting itu buat potong mie. Okkee… menurut gue rasa mie ini ga begitu enak. Hehe… rasanya ga gigit di lidah. Mungkin karena gue biasa makan indomie yang hanget, jadi pikiran udah ke-set klo mie ya mie rebus gitu. Mienya juga kecil dan kenyal. Gue yang males ngunyah susah banget nelen itu mie yang panjang. Kayanya ada baiknya klo mienya dipastikan di gunting-gunting dulu sebelum makan, karena susah gigit motongnya pake gigi sendiri. Tapi yang gue ga nyangka dari menu ini adalah ada buah pir di dalam kuahnya, dan buah pir ini ENAK! Pas banget sama kuah mienya yang dingin itu. Menu berikutnya adalah fried dumpling. Gue rela pesen ini karena dari beberapa review bilang kalo ini enak. Bener, ini enak~ lidah gue ga masalah nerimanya. Aplagi ada saos cabe cocolannya. Huummmmmnnn yuuuuummmm… dan menu utama kita siang ini adalah sop daging kuah merah itu. Ini juga enak!. Pas banget dimakan sama nasi dan banchannya. Banchan nya juga enak-enak. Tapi ga tau ya bisa nambah ato gak. Dan yang paling gue suka dari restoran ini adalah, karena mereka vegetarian, so pasti semuanya adalah olahan sayur, kedelai, dan jamur! Sehat broooo… walo demikian teksturnya sama dan mirip banget sama daging asli. Pokoknya laen kali, kalo gue ada rejeki ke Seoul lagi, PASTI mampir lagi deh ke sini buat makan, 꼭!
![]() |
Set menu Jigaae with rice and side dishes & Fried dumpling - Cold noodles |
![]() |
In front |
K-Style Hub
Siang
itu alhamdulillah traffic ga begitu parah. Ga separah pengalaman gue 2 tahun lalu. Seharusnya sih lokasinya ga begitu jauh ya. Waktu
ngelewat Jogyesa, nyokap terkesima sama kuil itu. Gue bilang klo itu kuil Jogyesa. Pa supir yang baik dan ramah, ikut nimbrung, dan
dia terkesan waktu gue tau kalo itu Jogyesa (padahal belum pernah sih gue ke
sana, tapi bisa ketebak).
Argo akhir sekitar 5.000 won, kita diturunin di
pinggir jalan deket sungai Choenggye. Pak supir bilang kalo kita harus jalan
sedikit buat nyampe ke Hanguk gwangwang gongsa. Ga jauh kok jalannya. Pohon di
pinggir jalan juga rindang ciynt. Nyaman, dan ga lama, udah sampe depan K-style hub aja.
Begitu
masuk, ada respsionis di lantai dasar. Bilang aja kalo mau “muslim praying
room”. Nanti dia bilang “2nd floor”. Naiklah pake tangga dan
eskalator kecil. Jejeeeennnggg… tiba deh di tempat yang pernah gue kunjungi 5 bulan lalu. Oooohhh~ bring back memories~ (baca ceritanya di sini).
Siang itu lumayan ada beberapa turis yang sedang duduk santai di sofa karena kecapekan abis jalan-jalan (mungkin, *sotoy). Yap, di sini, lo bisa bebas. Ada meja information center tempat lo bisa nanya-nanya apa aja mengenai pariwisata korea, ada juga brosur segambreng yang bisa ngabisin waktu berjam-jam kalo kalian mau ngelihat semuanya. Tapi, kita tetep harus menuntaskan tujuan awal, sholat. Musholanya kecil. Paling cuma muat buat 2 orang sholat. Cowo-cewe pisah tempat. Ada tempat wudhunya juga (jadi ga perlu ambil wudhu di toilet). Ada mukenah dan sajadahnya. Kalo gue lihat, dominan yang mampir ke sini, orang Malaysia. Oh iya, toilet di sini tuh toilet modern. Heeheh.. kaya’ standar toilet yang gue temuin waktu trip desember lalu. Ceboknya pake tombol. Wkwkwk…
Siang itu lumayan ada beberapa turis yang sedang duduk santai di sofa karena kecapekan abis jalan-jalan (mungkin, *sotoy). Yap, di sini, lo bisa bebas. Ada meja information center tempat lo bisa nanya-nanya apa aja mengenai pariwisata korea, ada juga brosur segambreng yang bisa ngabisin waktu berjam-jam kalo kalian mau ngelihat semuanya. Tapi, kita tetep harus menuntaskan tujuan awal, sholat. Musholanya kecil. Paling cuma muat buat 2 orang sholat. Cowo-cewe pisah tempat. Ada tempat wudhunya juga (jadi ga perlu ambil wudhu di toilet). Ada mukenah dan sajadahnya. Kalo gue lihat, dominan yang mampir ke sini, orang Malaysia. Oh iya, toilet di sini tuh toilet modern. Heeheh.. kaya’ standar toilet yang gue temuin waktu trip desember lalu. Ceboknya pake tombol. Wkwkwk…
Sebenernya sih males juga ya buat balik ke hostel lagi buat ngambil koper. Tapi untungnya penginapan kita satu arah, dan letaknya ga terlalu jauh dari stasiun subway. Ga butuh waktu yang terlalu lama juga. Lanjut kita naik subway, transit di stasiun Hongdae buat pindah kereta airport railroad. Transfer stasiunnya jauh naudzibleh. Geret-geret kaki aja, sambil geret koper berat. Ada baiknya bagi kalian yang mau transfer stasiun kaya’ gini disisain waktu yang cukup biar ga buru-buru, mengesh banget loh jalannya. Pake naik turun tangga juga. Hingga akhirnya nyape juga di dalam kereta.
![]() |
Stasiun Ehwa yang udah akrab banget |
Gimpo Airport
Perjalanan
dari Hongdae menuju Gimpo airport, hmmm lumayan sekitar 15 menit, tapi ga begitu
lama kok. Seinget gue desember dulu, waktu dari Incheon ke Gimpo, jalannya ga
begitu jauh, ga kerasa tiba-tiba udah di depan check-in counter aja. Tapi entah
kenapa kemaren ngerasa lumayan jauuuh jalannya. Pake ngelewatin kaya’ area
lobby juga, sebelum akhirnya tiba di check-in counter EastarJet.
Setelah
check-in dan drop koper, petugasnya nahan paspor kita selama 10
menit untuk cek barang bagasi. Entahh kenapa gue ngerasa kalo mereka agak
mengintimidasi warga Asean. Padahal warga lokal yang laen yang mau naik pesawat
ga ada disuruh nunggu bagasi. Tapi ada juga turis Malaysia *kaya’nya* yang
disuruh nunggu bagasi kaya’ kita.
Setelah 10 menit berlalu, gue balik lagi ke check-in counter, nanyain Agassi yang sama, apakah bagasi kita gapapa. Awalnya si Agassi sempet bingung, mungkin karena belum ada kabar dari temennya yang di area bagasi. Tapi karena emang udah 10 menit, akhirnnya dia pasrah aja ngasih paspor dan tiket kita.
Setelah 10 menit berlalu, gue balik lagi ke check-in counter, nanyain Agassi yang sama, apakah bagasi kita gapapa. Awalnya si Agassi sempet bingung, mungkin karena belum ada kabar dari temennya yang di area bagasi. Tapi karena emang udah 10 menit, akhirnnya dia pasrah aja ngasih paspor dan tiket kita.
![]() |
Waiting room Gimpo airport |
Jadi, dari pengalaman di atas, gue merasa pelayanan mereka sangat baik. Walopun kita salah, wajar kalo barang terlarang kita disita, tapi ga lebih dari itu, toh itu untuk prosedur keselamatan. Kalo dipikir-pikir, ini juga salah mereka, karena saat cek koper kita diawal (waktu check-in dan drop bagasi) ga ada konfirmasi dari mereka. Agak lambat kerjanya, karena janji(prosedur)nya cuma 10 menit inspeksi kopernya.
Okeh,
begitu masuk pesawat, duduk, yah pesawatnya standar dengan tempat duduk 3-3 dan
ruang kaki yang ga begitu luas, khas penerbangan LCC. Gimpo-Jeju ditempuh
sekitar 1 jam-an. Sore itu, penerbangan aman, matahari berwarna jingga, dan
banyak gumpalan awan tepat di bawah pesawat seperti kasur kapas.
Perlahan-lahan, pemandangan awan berubah menjadi pemandangan laut, kemudian
pulau yang memiliki gunung di kejauhan. Yap! That’s Jeju~
![]() |
Jeju Island from above |
Jeju
Jeju Airport
Pendaratan
Easter Jet, seperti LCC pada umumnya, keras. Rrrrooooccckkkk ma maaannn! hehe..
Saat mendarat, hari sudah mulai gelap. Bandara Jeju ini sudah memiliki desain
yang cukup modern. Ya kaya’ rasa bandara baru di bali gitu deh. Setelah ambil
bagasi, mulailah kebingungan gue. Emang gue ga banyak cari referensi mengenai
transportasi umum di bandara Jeju ini. Lumayan lama gue ngeliat-liat peta dan
brosur-brosur di dekat pintu keluar bandara. Karena masih bingung, gue nanya
sama petugas, "kalo mau ke Jeju city bus terminal naik bus apa?", dia jawab bus
no. sekian (lupa), trus gue nanya lagi, "nunggunya dimana?", di dekat pintu 2
jawabnnya.
![]() ![]() |
Jeju Int'l Airport |
Oke, kemudian kita mencari antrian taksi. Petunjuk jalan meunjukkan kalo kita harus nyebrang. Setelah nyebrang, terlihat uluran puuuaaannnnjjjjjaaaaannnnggggg antrian. OH MY GOD! Udah kaya’ maen uler yang di hp jadul itu aja. Sambil ngantri gue mikir, kapaaannnn giliran kita akan tiba karena jauh banget antriannya.
Akhirnya~
giliran kita naik taksi. Ga perlu repot, gue tinggal kasih print-an kertas
booking agoda gue. Dia tinggal ngelihat di gps yang bisa dilacak pake nomor telpon aja. Canggih… Setelah pak supir
menganggukkan kepala menandakan bahwa ia tau lokasi hotelnya, mobil kita melaju
ke jalan yang sepi. Ini deh ciri khas daerah yang (menurut gue) masih natural,
sepi. Hingga kemudian pemandangan menjadi bangunan yang ga tinggi berbaris di
kiri-kanan jalan.
Ternyata
emang ga lama gue udah neglihat tanda jalan Seogwang-ro dan “Jeju city bus terminal”.
Wah, udah nyampe aja. Setelah kasih duit argo sekitar 5.000 won ke supir taxi,
kita disambut hangat oleh namja resepsionis. Kebetulan malem itu kaya’ lagi ada
masalah (keributan kecil dari salah satu tamu *kayanya, sampe ada polisi
segala), tapi kita masih dilayani dengan baik sama namja resepsionis itu.
Jadi, waktu check-in, dia ngejelasin bahwa peraturan yang agak beda dari hotel
ini adalah “tidak boleh membawa makanan ke dalam kamar”. Ohemji. Menurut gue
ini salah satu syarat yang kurang menguntungkan bagi pelancong kere seperti
kita yang biasa makan malam menggunakan makanan sisa bekal. Wkwkwk.. tapi
tenang aja, sebagai gantinya mereka mempersilahkan kita kita membeli makanan
dari luar untuk dimakan di area lobi. Lobinya cozy sih, desainnya muda gitu.
Gue lihat ada laptop/komputer, tapi ga tau ya boleh dipake bebas ato ga, karena
waktu itu gue ngelihat ada orang yang lagi pake. Ada juga café buat ngopi. Tapi
gue baru nyadar ternyata yang gue inepin ini adalah hotel, bukan hostel maupun
guesthouse. Mereka menyediakan air mineral botol di dalam kamar, di dalam
lemari es (padahal sayang banget ada lemari es dan pemanas air tapi ga boleh
bawa makan). Tadinya gue mau nanya ada air galon gratis ga di lobi, tapi malu.
Hehe.. Jadinya gue ga tau ya kalo malem-malem bisa ga refill air minum botol
kita sendiri. Tapi untungnya mereka juga ganti airmineral botol setiap harinya,
dan kita bisa refill botol minuman kita saat sarapan pagi. Karena mereka
hotel, jadinya ada room service di siang hari (ngerapihin kamar kita saat kita
keluar). Satu lagi peraturan, resepsionisnya ga 24 jam, jadi kita ga boleh ketinggalan kunci kamar!
Berabe kan kalo ga bisa masuk kamar, apalagi kalo ga bisa masuk ke dalem
bangunan hotelnya karena lupa kode password kunci pintunya.
![]() |
Jeju R Hotel Room for 3 person (sorry for my messy things) |
![]() |
Jeju R Hotel Bathroom inside guestroom |
Selesai beres-beres dikit, kita jalan ke luar, mumpung belum terlalu malem. Niatnya mau nyari cemilan pengganjal lapar (padahal emang belum makan malem). Satu lagi nih alasan kenapa pilih hotel ini, selain dekat dengan Jeju city bus terminal, ada beberapa minimarket dekat situ. Emang deket sih, di seberang jalan, tapi pada kenyataannya, bagian tengah jalannya ada pager, jadi ga bisa nyeberang jalan sembarangan. Harus jalan dulu ke perempatan yang ada zebracross-nya, yang letaknya udah deket lagi ke terminal. Ampuunn.. untungnya masih tetep semangat karena baru juga nyampe. Di seberang jalan ini, deretan toko yang menjual makanan di malam hari lebih banyak daripada tepi jalan tempat hotel kita. Keluar masuk mini market, tetep bingung apa yang mau dibeli. Takut sama ke-halal-an-nya. Akhirnya cuma beli banana milk dan roti tawar di Tou le jours. Ada sih aneka jenis roti lainnya, tapi masih tetep takut makannya. Ada juga nasi putih instant, tapi gue bingung ini masaknya gimana, apa boleh masak di minimarketnya? Ga pernah gini sik ya. Biasanya kalo makan, tinggal buka tudung saji di meja makan aja. Susahnya nyari makan di tanah rantu minoritas. Di perjalanan pulang, kita lewat perempatan yang satunya lagi, ternyata di ujung jalan (keluar dari jalan kecil hotel, belok kanan) ada juga minimarket nya. Yaudah terlanjur, numpang lewat aja.
Komentar