PUNYAKUBAE

  • PUNYAKUBAE |
  • Tag
    • Travel Stories
    • Promotional
    • Entertainment
    • Food Experience
  • History
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2021
    • 2020
    • 2019
    • 2018
    • 2017
    • 2016
    • 2015
    • 2014
    • 2013
    • 2012
    • 2011
    • 2010
    • 2009
    • 2008
    • empty
      • empty1
      • empty2
Eunpyeong Hanok Village  
|  Jejak hujan kemarin masih membekas di hari ini. Langit kelabu. Matahari nambah ga kelihatan. Bikin mager. Mana kemaren malem abis ngider myeongdong, masih bersisa capeknya. Gue putuskan untuk nyantai aja jalan-jalan hari ke-4 di Korea.
Hari ini jadwalnya ke Eunpeyeong Hanok Village. Pertama kali tau tempat ini dari postingan di IG. Katanya perumahan tradisional korea di kaki bukit. Gue sampe DM yang punya akun nanyain lokasi persisnya. Bener-bener ngebet pengen ke sini karena fotonya baguuuuss… nuansanya beda dengan yang di Bukchon. Ditambah lokasinya masih di Seoul, ga perlu jalan jauh makan banyak waktu. Daannn… tempat ini memang belum banyak orang tau, cucok buat foto-foto, dijamin ga bocor. Wkwk..

Seperti hari-hari sebelumnya, kita naik bus ke arah utara kota Seoul selama kurang lebih 45 menit.  Long journey though. Member perjalanan ada yang sampe tidur. Gue sih, biasa, update ig demi eksistensi dunia maya. Haha.. sambil ngecek Naver Map, jangan sampe kelewatan. Begitu pengumuman bus sudah nyebut-nyebut ‘eunpyeong’, siap-siaplah gue memberi aba-aba ke member perjalanan. Tenang gaes, sepertinya Eunpyeong sudah masuk list objek wisata, jadi pengumuman di dalem bus sudah ada yg pake bahasa inggris. Ternyata, bukan rombongan kita aja yg turun di bus stop Eunpyeong Hanok Village. Ada jg beberapa penumpang. Dan Bus Stop ini persis di pinggir komplek Hanok Village dengan pagar khasnya. Ga jauh dar bus stop, ada jalan kecil (bukan jalan utama. Kayanya emang khusus dibuat untuk orang lewat) buat masuk komplek.
 
Begitu nyampe di dalem komplek, uuwwaaahhhh…. Rumah-rumah hanok semua. Gede lagi. Gue sebagai penikmat arsitektur happy banget lihat beragam jenis dan bentuk rumah hanoknya. Lo bebas tunjuk sesuka hati mau foto di depan rumah mana, anggep aja rumah sendiri, wkwk.. tapi tetap jaga kedamaian dan ketenangan yak, karena ini komplek rumah orang beneran. Cctv jg dimana-mana.
Sambil foto sana-sini, sambil jalan ke arah selatan. Yap, gue denger di sana ada museumnya. Harga tiketnya murah. Trus ada sewa hanboknya juga, gratis. Setelah nyampe di halaman museum, kok sepi ya. Apa mungkin tutup. Tapi emang ga terlihat tanda kehidupan di dalamnya. Pintu ga bisa dibuka. Jadi terpaksa gue simpulkan museumnya tutup karena Corona. How sad T_T..
Tapi bokap gue kebelet pipis. Muter sana-sini, ga ada toilet umum gaeess.. ohemji… derita orang yg sudah tua jalan-jalan dimusim dingin. Jadilah gue masuk ke salah satu cafΓ©. Nanya hwajangsil ke sajangnimnya. Orangnya baek, langsung kasih tunjuk toiletnya yang ada di lantai dasar. Yah, karena ga enakan, gue pesen satu latte aja, takeaway, sambil nunggu bokap. Cafenya rame. Ada lantai atasnya. Tp karena gue cuma pesen utk takeaway, gue malu kalo harus ngider-ngider cafΓ© ini. Hehe.. padahal info yg gue dapet, ada salah satu cafΓ© yg punya view cantik ke komplek hanok (tp kayanya bukan cafΓ© ini sih yak).

Selesai urusan toilet dan beli kopi yang lumayan bisa dipake untuk property foto, gue putuskan untuk tetep lanjut ke bangunan museum yang tutup tadi. Info lain yg gue dapet, kita bisa ke bagian atas museum untuk lihat pemandangan, tanpa bayar apa-apa. Ga mungkin dong yang gratisan gue lewatkan.  Puluhan anak tangga didaki, sampailah di rooftop museum. Honestly, pemandangan dari sini tuh bagus sebenernya, tapi sayang cuaca kurang mendukung. Garis bukit bukhaksan hanya terlihat tipis mengintip dibalik awan mendung kelabu. Imagine if it’s clear sky in autumn, the view must be so marvelous. Meskipun demikian, kita tetep amazed kok ngelihat pemandangan komplek Eunpyeong Hanok Village dari atas ketinggian, dan antusias foto sana-sini. Bagus-bagus spot fotonya. Dijamin, foto lo bakal kelihatan beda dari orang kebanyakan, anti-mainstream, karena tempat ini masih belum banyak diketahui turis.
  
 
Tak terasa sudah satu jam aja berlalu, kita putuskan untuk turun dan jalan di komplek ngelihat rumahnya lagi (ceileh berasa anak komplek rumah sendiri aja. Haha..). tapi kali ini, kami emang beneran niat buat pemotretan. Asheek.. ga ding, amatiran aja untuk koleksi di ig. Kami memutuskan dan memilih rumah yang ga jauh dari museum tadi sebagai latar foto. Puluhan jepretan dihasilikan. Untung ga diusir yang punya rumah. Hehe.. kalo gue lihat, komplek ini masih belum 100% selesai. Mungkin karena kita foto di rumah yang berada di pinggir jalan utama, banyak juga (lumayan satu-dua) mobil yg seliweran, salah satunya mobil box, yang kayanya bawa barang. Tapi ga sampe diklakson pake diteriakin kok, yg penting jangan terlalu heboh foto-fotonya. Gue suka deh hasil foto-foto di sini, apalagi yang candid mode  gitu. Hihhii…
 
Satu jam pun sudah kami habiskan untuk pemotretan, dan jam sudah hampir menunjukkan pukul satu siang. Saatnya balik ke pusat kota buat makan dan sholet. Jadi sekian aja cerita pengalaman gue di Eunpyeong Hanok Village. Worth to visit. Ga nyesel gue memutuskan untuk ke tempat ini. Puas sama foto-foto yang bejibun, tanpa bocor rebutan sama turis lain. But somehow, kalo lo tipe orang yang memang mau apreasiasi nilai warisan budaya, gue sih ngerasa feel kampong korea jaman dulu tetep lebih dapet di bukchon. Jadi, ini lebih tepat kalo kalian cuma mau foto-foto aja, yang foto endorsan atau mau pemotretan serius, recommend banget tempat ini.


View this post on Instagram

Nanti kalo Korea udah buka utk turis, kalian ke sini ya gaes, komplek rumah-rumah hanok. Lokasinya masih di Seoul. Namanya Eunpyeong Hanok Village. Aku rekomendasi'in ini karena Bukchon sudah terlalu mainstream. Kalo foto di sini, no bocor bocor rebutan sama turis lain. Wkwkk.. So, you can strike million poses and click your camera as much as you want! Tapi peraturan 'be quiet' tetap berlaku ya, karena ini emang rumah beneran yang ditinggali orang/penduduk setempat. Artikel lebih lengkap dengan foto lebih banyak, masih disiapin di blog. Stay tuned~ #AkuDanKorea #KeKoreaAja #eunpyeong #μ€ν‰ν•œμ˜₯λ§ˆμ„ #ν•œμ˜₯ #traditionalhouse #architecture1
A post shared by Debby Seftyarizki (@bydebbydeb) on Aug 3, 2020 at 3:32am PDT




List info cerita lengkap seri Ke Korea Terus bisa lihat di sini
Waktu masih kuliah dulu, rencana mau jalan-jalan ke luar negeri, ada temen yang bilang "Kenapa ga ke kota/negara yang menjalin persahabatan dengan bandung aja. Gue lihat ada tugu persahabatan dengan korea di jalan merdeka".
Satu tahun berikutnya, aku ikut acara sketch-walk, dan kebetulan lokasinya di sekitaran kantor walikota Bandung. Selesai sketsa gereja katedral, perhatianku pun tertuju ke salah satu monumen di tengah jalan. Sepintas aku mikir, 'kok mirip gaya-gaya Korea ya'. Eh, ternyata emang bener, monumen ini adalah tanda / peringatan bahwa Kota Bandung menjalin persahabatan dengan Kota Suwon (Korea) sejak tahun 1987. Hmmm... panteeesss...

Kota Sahabat (Sister City) adalah salah satu program dari bentuk kerjasama antar 2 negara. Biasanya kota sahabat terjalin karena ada kesamaan letak geografis maupun sosial, politk, dan budaya masyarakat setempat, dengan tujuan pembangunan ekonomi, pendidikan dan budaya. Beberapa kota di Indonesia dan Korea juga sudah menjalin kerjasama kota sahabat tersebut, seperti Jakarta-Seoul, Bandung-Gangwon, Surabaya-Busan, ...

Jakarta - Seoul
Dua kota ini sudah ga asing lagi bagi dua negara ataupun dunia. Ya, karena 2 kota ini adalah ibukota negara. Jakarta sebagai ibukota Indonesia, dan Seoul sebagai ibukota Korea selatan, telah menjalin hubungan persahabatan sejak tahun 1984. Termasuk kerjasama tertua, tapi jujur gue sendiri ga sebegitu tahu tentang persaudaraan kedua kota ini. Tapi ternyatam, baru-baru ini bentuk kerjasamanya terlihat dari upaya kota Jakarta yang belajar ke Korea mengenai pengembangan sistem transportasi terpadu dan TOD.
 
Sumber: i2.wp & i2.wp
Bandung - Suwon

Terhitung, kedua kota ini telah menjalin persahabatan selama 32 tahun. Salah satu persamaan kedua kota ini, yang mungkin menjadi dasar persaudaraannya adalah sama-sama merupakan ibukota provinsi yang mengelilingi capital city, dengan jumlah warga di  provinsinya adalah  yang terbanyak  di masing-masing negara. Menurut Bagian Kerjasama Kota Bandung, lingkup kerjasamanya meliputi bidang ekonomi dan investasi, serta bidang kebudayaan, seni dan pariwisata. Ada juga pelatihan di bidang ekonomi perkotaan, perencanaan kota, transportasi perkotaan dan e-government. Contoh bentuk kerjasama yang dirasakan dari implementasi ini adalah sungai cikapundung yang mulai tertata.
 
sumber; https://www.dw.com/image/44565755_303.jpg & https://www.globalcustodian.com/wp-content/uploads/2020/05/iStock-917502636.jpg
Busan - Surabaya
Selain sebagai kota nomor ke-2 terbesar di masing-masing negaranya, kedua kota ini sama-sama merupakan kota pelabuhan. Hal itulah yang menjadi dasar utama terjalinya persahabatan antar kedua kota ini sejak tahun 1994. Bentuk kerjasama yang sangat terasa adalah di sektor pendidikan. Klo nonton youtube, banyak juga warga korea yang ke surabaya untuk pertukaran mahasiswa. Menurut Bhirawa Online, guru-guru di kota surabaya juga banyak di kirim ke Busan untuk belajar mengenai pembentukann budaya dan karakter warga Korea yang disiplin, pekerja keras, dan nasionalis, yang merupakan dasar pengembangan kualitas SDM untuk keberhasilan dan kemajuan negara. Tidak hanya itu, di Busan bahkan gedung Busan-Indonesia Center (untuk mengenalkan Indonesia kepada penduduk Korea) di Jalan Surabaya.
sumber : Bhirawa Online


Museum yang didesain oleh 3 stArchitect 

|  Setelah jalan-jalan di Seoullo, gue naik bus melewati sisi selatan Namsan lalu stop di hannamdong. Berdasarkan panduan Naver map, gue harus jalan sekitar 300 m. Karena ini masih hari pertama gue liburan di Korea, kaki masih semangat banget untuk diajak jalan. Alhamdulillah, setelah melewati toko-toko kecil dan area perumahan, gue sampe juga di Leeum Samsung Museum.
  
Mungkin sebagian orang tahu sama museum ini karena pernah dipake sebagai tempat lokasi syuting variety show Korea yang terkenal itu, Running man. Tapi itu bukanlah satu-satunya alasan gue taroh objek ini di wishlist destinasi wisata, bahkan sejak pertama kali gue berencana liburan ke Korea 2015 lalu. Sebagai orang yang belajar di bidang Arsitektur, gue semakin tertarik untuk mengunjungi tempat ini karena bangunannya didesain Mario Botta, Jean Nouvel, dan Rem Koolhas. Nama-nama yang ga asing di telinga gue karena pernah gue denger dari dosen yang menjelaskan di depan kelas, semakin membuat gue penasaran untuk merasakan ruang yang didesain oleh 3 arstitek yang namanya terkenal di dunia tersebut. Setelah 5 tahun berlalu, Alhamdulillah finally I can made it.

Untuk masuk ke area lobby, kita akan melewati jalanan menurun yang dilapisi lantai kayu. Disebelah kiri ada bangunan kaca, di sebelah kanan adalah taman dengan sculpture tumpukan bola-bola silver yang sering dijadikan latar tempat untuk syuting acara tv. Yang gue denger, kalo cuma mau ke area taman ini untuk foto-foto aja, gratis ga perlu bayar. Tadinya mau gitu, tapi bingung masuknya lewat mana. Walhasil gue masuk ke dalam, mengunjungi loby, dan beli tiket 10.000 won. Hehe… yaudahlah ya. Tapi akhirnya, gue ga nyesel kok, karena gue puas sama pengalaman yang gue dapet selama mengunjungi museum ini.
Gue sebenernya bukan tipe orang yang suka mengunjungi museum. Mungkin krn kesan gue terhadap museum adalah tempat gelap, pengap, ga seru, ga asik. Apalagi ada embel-embel untuk belajar, haha ketauan deh males belajar. Tapi sekarang, gue rasa museum ga selamanya membosankan seperti itu, apalagi yang ada embel-embel art-nya. *walau kadang gue juga suka bingung, ga tau, dan ga paham sama nilai seni.
 
 
Jadi, Leeum Samsung Museum ini terbagi menjadi 3 area exhibisi. Sama halnya seperti bangunannya yang didesain oleh 3 arsitek yang sudah gue bilang sebelumnya. Setelah taruh tas di loker (ini disuruh sama petugasnya), gue jalan menuju exhibisi pertama yang didesain oleh Mario Botta. Kalo dilihat dari luar bangunan, area ini berbentuk seperti cone yang ditutupi dengan batu bata exspose. Petugas akan mengarahkan kita untuk naik lift ke lantai 3 (kalo ga salah). Ternyata, area exihibisi ini berisi barang-barang antik macam keramik atau lukisan jaman dulu. Gue seneng sama penataan interior. Terkesan bersih karena kontras background berwarna gelap dan tata cahaya lampunya benar-benar cantik menyinari setiap barang peninggalan sejarah yang menunjukkan budaya Korea. Denah ruangnya yang berbentuk melingkar membuat gue asik melihat setiap barang yang dipajang, tanpa terasa gue sudah selesai berkeliling, dan harus turun untuk melihat objek seni sejarah lainnya di lantai bawah. Saat gue melewati area tangga, lagi-lagi gue dibuat takjub dengan desainnya. Area ini juga salah satu spot utama Leeum Samsung Museum. Bahkan desain bangunannya pun menjadi objek pertunjukan tersendiri di museum ini. Itulah kenapa gue ga nyesel bayar admission fee yang ga murah ini hehe… Setelah 3 lantai gue lihatin semua, selesailah ekshibisi di area museum 1 ini. Tapi eits, ternyata pertunjukan seninya belum berakhir, karena tangga menuju area loby, lagi-lagi dipasang instalasi cahaya lampu lingkaran yang gede nan cantik. Ditambah lagi area ini dilengkapi dengan cermin full di depan dan atas. Oh, ku tak kuasa menahan hasrat untuk selfie di sini. Haha… Makin puas sama museum ini. Bahkan turis lain di belakang gue pun ikutan foto-foto di area tangga ini.
 
 
Dari brosur yang gue tenteng, exhibisi ke dua adalah area yang didesain oleh Jean Nouvel. Kesan maskulin, clean cut, terasa banget di bangunan yang interiornya didominasi oleh warna hitam dan jendela kaca yang menghadap ke taman kecil tertutup. Bukan cuma itu, susunan layer ruangnya pun terasa asik tidak membosankan dengan permainan voidnya. Ngelihat dan merasakan ruangnya, gue tau kalo beliau adalah arsitek aliran modern dgn tarikan garis tegas. Kalo mau disamain, ngingetin gue ke Daniel Libeskin atau karya Zaha Hadid zaman dulu (kalo gue salah, mohon kasih koreksi atau kasih pendapat kalian di kolom komentar ya..). Serupa dengan desainnya, bangunan ini menyimpan koleksi seni yg modern, lukisan maupun installasi. Masih sama juga dengan alur sirkulasi di exhibisi pertama, dimana kita mulai menjelajah ruang pameran dari lantai atas. Walau area tangga tidak didesain wow seperti pada area museum 1, tapi masih tetep terasa kok bahwa interiornya mendapatkan perhatian khusus dengan sentuhan desain maskulin sesuai tema bangunan. Beberapa objek seni di area exhibisi ini bisa gue nikmati krn bikin gue seneng lihatnya, meskipun gue ga ngerti seni. Tambahlah gue ga nyesel sedikitpun keluar uang mengunjungi museum ini. Hihi.. Kayanya sih beberapa karya seni di sini di desain oleh seniman terkenal, krn beberapa nama yang gue baca, ga asing di telinga.
 
Selesai mengunjungi exhibisi ke-2, gue sempet bingung dimana exhibisi selanjutnya. Krn capek, gue duduk dulu di lobi. Di sini tuh ada cafΓ© dan toko souvenir juga. Kayanya sih ada area workshopnya juga. Tp gue ga mau ngeluarin uang lagi. Haha.. Setelah celingak-celinguk, gue nyadar kalo area exhibisi ke-3 ada di dekat pintu masuk tadi. Oalaah… inilah bangunan desain Rem Koolhas. Memasuki area exhibisi ke-3 juga terasa bahwa ruang dari bangunan ini didesain oleh arsitek yang ga biasa aja. Yang gue tau, om Rem suka mainin layer ruang dengan bentuk geometris desain bangunannya. Sejujurnya, gue agak bingung sih sama alur sirkulasi di exhibit ke-3 ini. Mungkin krn memang tujuannya untuk menampung karya seni yang lebih bebas dan beragam, jadinya dibuat open layout untuk multifungsi. Ruangnya pun lebih terkesan unfurnished, beda banget sama exhibit pertama. Karya seni yang dipajangpun mungkin terlihat aneh bagi orang awam, entah apa nama aliran seninya. Area exhibisi ini jg terdiri dari 2 lantai (klo ga salah). Kayanya sih masih ada ruangan untuk fungsi lain, tapi gue ga berani explore macam-macam kemana-mana, krn sebelumnya gue pun pernah hampir salah masuk sampe ditegor petugasnya. Heehe…

Selesai sudah penjelajahan gue di dalem Leeum Samsung museum ini. Tp gue masih penasaran sama akses area tamannya. Mau ke luar udahan ga tahan sama dinginnya. Jadinya gue ngadem sebentar sambil lihatin peta krn gue pengen banget foto di taman itu. Krn keterbatasan waktu, gue putuskan utk bye-bye sama Museum ini dan berjalan ke luar. Wow, ternyata gue nemu tangga untuk ke area taman itu. Ternyata pas dateng tadi, udah gue lewatin, tp krn pandangan gue cuma fokus ke depan dan ke dinding kaca di sebelah kiri, malah ga lihat tangga ke taman di sebelah kanan. Haha… seneng deh, tanpa ragu gue ke taman itu, foto-foto, selfie, sampe pasang timer (terniat). Gue juga memutuskan untuk sedikit explore bagian luar, sedikit mengitari bangunan. Tapi ga ketemu apa-apa semacam hidden place gitu sih. Lanjut,  gue putuskan untuk ambil jalur pulang ke stasiun hangangjin yang beda dengan jalur pergi tadi, biar banyak pengalaman maksudnya. Tapi kalo lewat jalan itaewon-ro 55-gil ini, lumayan curam. Untung pas pulang ini jalannya turun, jadi kaki masih aman ga perlu kerja keras. Hhehe..



View this post on Instagram

Tau ga sih, ga selamanya museum itu boring! Apalagi yang ada embel-embel modern dan art-nya. Seperti pengalaman gue ke Leeum Samsung Museum di Hannamdong, Februari lalu. Melihat barang-barang antik dan instalasi unik yang dipamerin, bisa jadi pilihan wisata anti mainstream kalian kalo ke Korea. Kalo ke sini, sediain waktu yang cukup, minimal 2 jam untuk keliling museum sambil menikmati setiap karyanya. More story, read on the blog. #AkuDanKorea #KeKoreaAja #리움 #museum #modernart #λ―Έμˆ κ΄€
A post shared by Debby Seftyarizki (@bydebbydeb) on Jul 10, 2020 at 8:47am PDT




View this post on Instagram

Mario botta, Jean nouvel, Rem koolhaas, adalah alasan aku ke Leeum Samsung Museum. Mau merasakan ruang yang didesain oleh 3 starchitect dunia. Favoritku adalah ruang dalamnya Mario botta, zona 1 yang menyimpan koleksi khas korea. Suasana interior dan lightingnya juara, juga area tangga sebagai sirkulasi vertikal yang amazing buat dilewatin sambil foto-foto. Untuk zona 2, sudut ruang dan bukaannya Jean Nouvel terasa banget modernnya, maskulin, apik. Di zona 3, layering ruang dan geometrinya Rem Koolhaas terasa. . Admission fee ₩ 10,000 Kalo mau foto bagian luar aja, ga bayar kok. πŸ˜‰ Mampir ke blog ya buat baca review lebih lengkap. . . Senengnya kalo jalan-jalan bisa sambil belajar nambah pengetahuan. #AkudanKorea #kekoreaaja #리움 #museum #architecture #mariobotta #jeannouvel #remkoolhaas #architectour
A post shared by Debby Seftyarizki (@bydebbydeb) on Jul 16, 2020 at 1:


List info cerita lengkap seri Ke Korea Terus bisa lihat di sini
Itaewon itinerary  

|  Sehabis gagal main ice skating outdoor di Nodeul Island, gue buru-buru ngajak rombongan untuk pindah ke destinasi berikutnya. Karena hari ini adalah hari jumat, harus ngejer waktu jangan sampe ketinggalan sholat jumat. Krn gue jg ga paham jam pastinya sholat jumat di sini, makanya gue putuskan untuk tiba lebih awal di Itaewon. Naik bus, lalu nyambung metro. Lumayan sepi. Lalu tibalah di tempat tujuan. Gue udah ga terlalu asing lagi dengan itaewon krn sebelumnya udah pernah ke sini. Bonyok pun juga demikian, masih hapal. Suasana jalanan menuju masjid itaewon juga khas, ‘kaya sedang jalan di mekah aja’ kata kakakku, karena di sini memang banyak toko-toko yang menjual kebutuhan-kebutuhan umat muslim, mulai dari restoran  halal, supermarket halal, sampe toko baju dan buku islami.

Manis Kitchen
Sebenernya ada hal lain yang gue incer, yang bikin gue memutuskan untuk tiba di itaewon lebih awal, mau jajan dulu. Hahah… Gue baca di internet, katanya di depan masjid ada yg jualan jajanan halal. Ga boleh dilewatkan dong pastinya. Gue dan kakak gue dengan semangat diskusi mau beli jajanan apa di Manis Kitchen ini. Hhihii.. dengan beberapa pertimbangan, gue putuskan untuk beli topoki dan gorengan (harganya kalo ga salah dikisaran 3000 won). Pernah baca juga di internet, kalo gorengan korea tuh enak buat dicocolin pake saus topoki. Eh iya, pas pesen ke Ahjuma, gue sempet di bete-in si do’i krn gue tadinya mau makan di tempat, tapi ga jadi, gue bilang dibungkus aja. Ngomel dah si ahjuma. Kkkk… mana do’i lupa masukin tusukan, eh pas gue minta, dia masih ngomel lagi. Wkwkwk…
 
Gorengan korea  yang gue beli ini terdiri dari macam-macam, ada yang kaya’ bakwan, pistel, ubi goreng, apa lagi ya, lupa. Jadi walopun agak pricey kalo dirupiahin apalagi dibandingin sama gorengan mamang gerobak pinggir jalan di Indonesia, gorengan korea ini lumayan banyak juga. Trus kalo makannya dicocolin ke saus topoki, emang makin enak jadinya. Harus loh cobain ini.


View this post on Instagram

Di seberang masjid Itaewon Seoul, ada toko yang jual beragam jajanan Korea Halal, mulai dari topoki, odeng, twigim (gorengan), kimbab, hopang, dll. Sungguh menggoda untuk dimampiri dan susah untuk dilewatkan. . . Review lengkap tentang jalan-jalan aku di Itaewon akan segera diupdate di blog. Stay tuned! #AkuDanKorea #KeKoreaAja #MuslimFriendlyKorea #간식 #μ΄νƒœμ› #maniskitchenkorea
A post shared by Debby Seftyarizki (@bydebbydeb) on Jun 26, 2020 at 9:35pm PDT

Itaewon Mosque
Gue memutuskan makan gorengan sambil duduk-duduk di halaman masjid aja, sambil nunggu  waktu sholat. Soalnya pengalaman 3 tahun lalu, kita ternyata kelamaan nunggu waktu sholat. Di masjid siang itu sudah rame, para ikhwan mulai masuk memenuhi area masjid. Waktunya tepat, Alhamdulillah, ga lama nunggu. Selesai makan jajanan sampe abis, kita kemudian lanjut ambil wudhu. Airnya sejuk pun. Tapi klosetnya bisa puas cebok. Wkwk.. selesai wudhu, ternyata halaman masjid sudah penuh sama ikhwan yang lesehan siap sholat. Agak telat deh ternyata ngatur waktunya. Jadi ga bisa masuk ke masjid, naik ke atas. Kita ngekor akhwat yg abis ambil wudhu jg, ke satu ruangan. Eh, di sini juga ternyata sudah banyak akhwat yang duduk siap sholat. Jadi ga kebagian tempat, mukenah, dan sajadah deh. Terpaksa nunggu sampe jama’ahannya selesai. E tapi sebenernya ini bukan ruang sholat. Kayanya cuma ruang tunggu, atau macam childcare gitu, ruang tempat sosialisasi para ibu-ibu. Jadi, yang mau sholat di sini, perlu lihat-lihat cek arah kiblat, karena orientasi ruangnya memang ga pas menghadap ke kiblat.

Karena kita sholatnya telat, selesai sholatnya pun jg molor dikit, halaman masjid sudah ga crowded. Abang dan papa juga bilangnya sudah foto-foto. Trus kita lihat ada kaya’ bazar buku di depan tangga masjid.  Eh, buku ini gratis lho, sedekah, baik untuk orang yang mau tahu lebih banyak tentang islam, maupun untuk turis muslim yang sedang di korea. Gue ambil buku yang berisikan info tentang Restoran Muslim Friendly di Korea, yang  dicetak oleh KTO. Boleh banget nih buat referensi, apalagi kalo kalian baru nyampe ke Korea hari jumat. Sayangnya gue waktu itu udah hari terakhir. Tp gpp, nothing wasted. Bisa disimpen buat next visit in Korea (hopefully).

Makan Restaurant
Selesai sholat, kalo lagi di itaewon, haruslah makan di salah satu restoran halal. Karena cuma di Itaewon sinilah kita bisa pilih-pilih mau makan di restoran muslim friendly yang mana. Gue juga sudah punya inceran restoran yang telah bersertifikasi Halal dari KMF. Jalan sonoan dikit dari masjid, ada Makan Restaurant. Pas lagi lihat-lihat menu, turis melayu yg lagi berdiri di depan restoran menyarankan untuk coba makan di Eid Restaurant aja. Makanannya lebih Korea ceunah. Jadilah kami jalan sonoan dikit lagi. Di depan Eid Restaurant, terlihat bahwa pengunjungnya penuh.  Ngintip dari jendela kaca, ga ada meja/kursi kosong. Memang waktu itu adalah jam makan siang dan kondisinya pas habis sholat jumat juga (hampir dipastikan semua turis muslim yang ikhwan akan ke itaewon). Mungkin ini sedikit catatan dan challenge buat temen-temen yang ngatur itinerary kunjungan ke Itaewon hari jumat kaya’ gue.
Karena sepertinya tidak ada harapan makan di Eid Restaurant, jadi balik lagi ke Makan Restaurant, yang siang itu belum ramai diisi pengunjung.  Sebenernya emang restoran ini yang gue incer, krn gue mau nyobain Tteokgalbi. Hehe… e tapi, rencananya kan kita mau hemat, mau share menu aja, akak pelayan bilang setiap orang harus pesan satu menu, ga bisa share di resto ini (catet nih guys). Baiklah…. Jadi selain Tteok galbi, pesen samgyetang juga, cukumi, bibimbab, dan bokeumbab (padahal udah nyiapin bekal nasi di tas. Wkwk…).
  
Semakin siang, sambil nunggu menu kami di taruh di meja, pengunjung resto jg semakin ramai. Gue langsung review aja ya menunya… Tteokgalbi (krw 12.000), ternyata adalah semacam patty burger gitu (bukan sliced beef kaya steak, karena memang menu ini terbuat dari daging ribs yang dicincang). Samgyetang (krw 12.000) seperti biasa porsinya gede. Ojingeo Bulgogi (krw 10.000) / grilled squid (kalo di Indo semacam cumi asam-manis-pedas tapi ada topokinya), bibimbab (krw 8.000), dan bokeumbab (krw 8.000), standar, biasa aja. Tapi alhamdulillahnya adalah semua makanan ini halalan toyiban. Dimana lagi coba bisa makan tteokgalbi yang terbuat dari daging sapi yang halal di Korea ini? Oh ya, selain menu utama, seperti restoran korea pada umumnya, side dish yang disediakan lumayan beragam macemnya. So pasti , kami berlima dengan susah payah ngabisin semua makanan yang ada di atas meja.


View this post on Instagram

Setiap kali nonton acara Korea yg makan-makan, pasti langsung pengen nyobain juga. Makanya, pas lagi di Itaewon kemaren, diniatin banget untuk makan Tteokgalbi (beef patty ala korea / minced short-ribs) di salah satu restoran yg sudah bersertifikat halal. Harga standar, ₩ 12.000. Cuma, di Makan Restaurant ini kita ga bisa shared menu. Tapi, dimana lagi di Korea bisa makan daging dengan nyaman tanpa bingung sama kehalalannya, yakhan.. . . Btw, cerita lebih lengkap tentang jalan-jalan aku di Itaewon sudah bisa dibaca di blog. Enjoy~ πŸ˜‰ #AkuDanKorea #KeKoreaAja #MuslimFriendlyKorea #λ–‘κ°ˆλΉ„ #ν•œμ‹
A post shared by Debby Seftyarizki (@bydebbydeb) on Jun 30, 2020 at 6:31am PDT


List info cerita lengkap seri Ke Korea Terus bisa lihat di sini
Covid-19 sudah mengguncang dunia, dan memberikan dampak yang sangat luas ke semua sector. Everything will not be the same anymore. Segala upaya juga sudah dilakukan untuk mengatasi dan memulihkan kondisi akibat covid-19. Berikut sedikit pemikiran receh dari aku mengenai upaya yang dapat dilakukan Korea-Indonesia menanggapi isu dan dampak covid-19.
source : alenia.id
  • Bisa dibilang sektor ekonomi adalah salah satu dari yang terpukul. Dan gue termasuk salah satu yang merasakan dampaknya. Tapi, gue bukan ahli di bidang ini. Gue berharap Indonesia-Korea bisa kembali membangun kerjasama yang dapat meningkatkan daya serap tenaga kerja yang banyak kehilangan pekerjaannya.
  • Masih berkaitan dgn sector ekonomi, gue berharap kedua Negara bisa mulai saling membuka satu sama lain, but in a safe way ofcourse. Salah satunya di bidang entertainment dan pariwisata. Sekarangkan ada tuh wisata daring. Atau mulai kembali mengenalkan berbagai macam wisata melalui film, mv, atau tv-show.
  • Pendidikan dan riset memang menjadi modal investasi non-fisik yang menjanjikan. Di bidang ini, gue berharap Indonesia-Korea juga bisa menjalin kerjasama khususnya mengenai hal yang berkaitan dengan covid-19. Bukan cuma di bidang medis dan teknologi saja, tapi juga bisa berbagi mengenai everyday life, how can we live side-by-side with this virus without give a harm to ourself and others. Contoh sederhana adalah talkshow atau seminar tentang bagaimana upaya menghadapi new normal yang dilakukan kedua Negara. Bukan saling mencontoh mentah-mentah, tapi mempelajari bagaimana kebijakan dan keputusan diambil dengan dasar yang menyesuaikan masyarakat dan budaya.

Jujur, sebenernya upaya kerjasama yang sudah dilakukan dua Negara sudah berjalan baik dan optimal. Kalo temen-temen ada ide lain, boleh disuarakan di kolom komentar. :D
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Travel, Architecture, Korea, Guitar
Hit me a message on

db.guitar.arch@gmail.com

Contact me

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • CNBLUE album
  • Gyoza
  • My Bad Luck Experience in the End of Taiwan Trip
  • Kost dekat Universitas Bengkulu (UNIB)
  • Belajar Korea

Label

korea jalan-jalan liburan entertainment arsitektur AkuDanKorea KeKoreaAja Badminton Music Makan chord guitar Film Jepang Temen other Taiwan sahabat korea promotion Malaysia Singapore HongKong Lombok palembang game Bali
Diberdayakan oleh Blogger
Punyakubae

Total Tayangan Halaman

Translate

Follow

Designed by OddThemes | Distributed by Blogspot