Hari-2
| Marianne hotel busan |
| My first breakfast at Marianne Hotel |
| Gwangan bridge Busan |
Geoje adalah kota tepi laut yang didominasi
oleh pelabuhan untuk bongkar muat pabrik. Makanan yang terkenal di Geoje adalah kepiting yang sudah dimarinasi dengan kecap asin (Gejang Jongsik). Kepiting Ganjang Gejang ini dimarinasi semaleman (cmiww), maknya bumbunya meresap sampe ke dalem-dalem. Dan setelah gue pulang ke indo, baru nyadar bahwa ini adalah kepiting mentah, ga dimasak. Ohemji.... pantesan aja rasanya kok kaya' benyek-benyek gitu. heheh.. Selain kepiting soy sauce tadi, ada juga
kepiting pake saus pedes. Ikan goreng juga ada. Gurita saos pedes juga ada. Kimchi,
dan sayur-mayur temen-temen lainnya ikut meramaikan. Cara makannya adalah,
ambil 1 badan kepiting, taroh nasi di dalam cangkang, keluarin nasi beserta
saos kecap asin dan daging kepiting, suapin ke mulut, aaaaakkkkk…. Kalo mau
enak bisa tambah rumput laut kering juga. Saat itu kita makan di Restoran Sing
Sing yang menurut eonni merupakan restoran Gejang paling terkenal..
Kenyang makan, kita siap-siap ke pelabuhan,
naek ferry kecil untuk melakukan tur Haegeumgang. Maaf, gue ga bisa cerita
banyak karena instrukturnya pake bahasa korea. Jadinya kita naik ke atas dek kapal
buat foto-foto. Walaupun memiliki guncangan hebat akibat gelombang yang cukup
besar, ditemani terpaan angin dingin yang berhembus kencang, tapi gapapa, semua ini
pengalaman yang seru dan tak terlupakan *ngetik sambil ngelap ingus* demi
pemandangan yang cantik nan indah di Haegeumgang dengan pulau-pulau
bebatuannya.
Sekitar 1 jam perjalanan, tibalah kami di Oedobotania.
Naaahhh… di sini musti siap-siap karena kita bakalan jalan kaki naek ke atas
bukit. Oedobotania adalah pulau pribadi yang dibeli oleh orang kaya, kemudian
diolah dan dipercantik untuk menjadi area wisata (ini ceritanya hampir mirip
sama kampung Sampireun di Garut). Di sini ada banyaaaakkkk banget tanaman. Bambu,
palem, cemara, dan berbagai jenis bunga. Di atas bukit, ada taman yang ditata
cantik layaknya kerajaan tuan putri. Tipikal taman-taman diatas langit dengan patung-patung ala drama korea gitu. Siang itu cuacanya enak. Lumayan ga dingin, matahari bersinar cerah
seolah tersenyum senang walau panas menyengat kami tetap gembira~ tapi
hati-hati karena muka gue sekarang malah merah karena terkena paparan sinar
matahari, makanya jangan lupa pake sunblock dan pelembab ya laen kali. Makin jalan ke atas,
pemandangan lautnya makin cantik cupcupmuahh.
| Light hiking at Oedo Island |
| Beautiful yet magnificent view from Oedo Botania |
| Tongyeong bay, port city |
well, setelah sekitar 2 jam, ngabisin setengah baterai kamera, akhirnya kita turun naek ferry balik ke pelabuhan Geoje (30 menit aja karena ga pake muter-muter tur pulau-pulau kaya’ pergi tadi). Lanjut lagi naek bus sekitar 1 jam menuju Tongyeong.
Tongyeong terkenal karena merupakan salah
satu daerah yang pernah dipimpin oleh Le sun shin. Mungkin kalian udah pada
tahu sama beliau. Kalo belum, kenalan dulu sama patungnya di Gwanghwamun
square. Beliau adalah pahlawan korea yangterkenal karena memiliki banyak keberhasilan
dalam mengusir tentara jepang melalui peperangan di atas laut. Dan kapal
yang paling terkenal adalah Turtule ship. Mungkin buat kenalan, bisa juga nonton
film ”Roaring Currents”. Lokasinya yang berdekatan dengan Jepang, membuat
Teongyeong rawan di serang oleh jepang yang ingin masuk jauh ke Cina sana. Tongyeong
yang terletak di teluk dan dikelilingi bukit, membuat area tersebut enak buat
memantau kondisi perarian untuk bersiaga bila ada serangan tentara jepang.
Naaahhhh…. Sekarang, untuk menarik minat wisata, Tongyeong memiliki Desa Dongpirang,
dimana rumah di area perbukitan di cat cantik biar menarik. Bahkan setiap 2
tahun sekali, terdapat kompetisi untuk mengganti lukisan-lukisan yang ada,
karena ini adalah program kegiatan desa Dongpirang. Di sini, lo bisa menjelajahi sekeliling desa sambil foto-foto unik dengan berbagai macam background mural. Oh ya, bagi pecinta Song joonki, yang tau drama The Innocent Guy (chakkan namja), di sini adalah lokasi episode terakhir k-drama ini!. Inget indahnya pemandangan waktu Maru nemuin Enggi buat ngelamar dia. Nah inilah.... Dongpirang~. Kita sempet mampir ke Cafe yang persis jadi lokasi syutingnya. tp sayang, cafe ini ga nerima credit card, trus ga jadi deh mesen minum di cafe ini. hehe..
| Dongpirang mural village |
Akhirnya, setelah capek jalan di Dongpirang, ballik turun ke jalan raya, kita mampir di
salah satu kedai kopi untuk istirahat sejenak. Ssajangnim Coffee-rang ini bahkan kasih kita eskrim
gratis, sama kartu pos. duuuhhh... baeknyaaaa~ Boleh deh mampir ke sini kalo kalian mengunjungi Dongpirang, orangnya lucu. Hihi… Kita juga dikasih roti madu khas dongpirang (kkulbbang) berisikan kacang merah dan kacang tanah. Enak loh~
Lanjut jalan menyusuri Pasar Tradisional
Tongyeong. Banyak jual Ikan, seperti biasa… Sebenernya saat itu sih masih sore, sekitar jam 5. Tapi karena musim dingin, udah gelep aja pasarnya.
| Tongyeong market |
Hingga akhirnya menutup perjalanan dengan beristirahat
di Hotel yang memiliki ruang kamar yang luas. Eh tapi ada sedikit kejadian katro lucu di hotel ini. Biasanya kan kita kalo masuk ke kamar hotel, suhu ruangan sudah di atur otomatis. Nah, entah kenapa suhu ruangan kami tuh panaaassss banget. berhubung gue dan roomate ga terbiasa pake pemanas ruang, kita ga ngerti gimana cara ngatur suhu ruangan tersebut. Ya udah, dibiarin aja. Alhasil, malam itu kita tidur di dalam ruangan bersuhu sekitar 30 derajat celcius. Ga butuh selimut. keringetan juga ada. entah ini tidur di atas kasur apa di atas kompor. wkwkwk..
(cerita selanjutnya)
(cerita sebelumnya)
(cerita selanjutnya)
(cerita sebelumnya)
0 Comments